June 11, 2026, oleh

Dari tujuh jam menjadi satu jam. Lompatan efisiensi itu lahir dari tangan tiga mahasiswa UMM yang merancang mesin pencuci singkong hemat air dan berkapasitas besar, hingga sukses menaklukkan kompetisi nasional.
Tagar.co – Lima ratus kilogram singkong biasanya membutuhkan waktu berjam-jam untuk dibersihkan. Di banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), proses itu masih mengandalkan tenaga manusia. Pekerja harus mencuci, menyikat, dan memisahkan kotoran satu per satu. Akibatnya, waktu produksi tersita dan kualitas hasil sering tidak seragam.
Kondisi tersebut mendorong tiga mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan solusi yang sederhana, tetapi berdampak besar. Mereka merancang mesin pencuci singkong semi mekanis yang mampu memangkas waktu pencucian 500 kilogram singkong dari empat hingga tujuh jam menjadi sekitar satu jam.
Inovasi itulah yang mengantarkan tim UMM meraih juara nasional dalam kompetisi yang diselenggarakan Asosiasi Program Studi Teknik Mesin Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (APSTM-PT). Pengumuman pemenang berlangsung pada Senin, (18/5/2026). Tim tersebut terdiri atas Nova Sinanti, Azka Firosyan Samana Putra, dan Raihan Rosyadi.
Pemangkas Waktu
Bagi mereka, singkong bukan sekadar komoditas. Di balik umbi itu, terdapat denyut usaha kecil yang setiap hari berjuang memenuhi permintaan pasar. Karena itu, mereka merancang mesin yang mampu bekerja lebih cepat tanpa mengorbankan kualitas bahan baku.
Nova Sinanti, ketua tim, menjelaskan bahwa mesin tersebut memadukan teknologi drum spray dan water recirculation. Sistem itu bekerja bersama ulir pengarah bahan serta sediment trap yang memisahkan kotoran secara otomatis.
“Mesin yang kami rancang mampu memangkas waktu pencucian 500 kilogram singkong dari yang awalnya butuh empat hingga tujuh jam menjadi hanya sekitar satu jam saja. Kami juga menambahkan fitur drum spray dan sirkulasi air yang terintegrasi dengan sediment trap, sehingga pemakaian air jauh lebih hemat dan kotoran tidak bercampur kembali dengan singkong,” ujarnya.

Dari Efisiensi Menuju Kualitas Produksi
Keunggulan mesin itu tidak berhenti pada efisiensi waktu. Tim UMM juga menaruh perhatian pada kualitas hasil pencucian. Mereka merancang sistem sirkulasi air yang bekerja seperti bantalan pelindung selama proses pembersihan berlangsung.
Melalui mekanisme tersebut, kulit singkong dapat terkelupas dengan lebih bersih tanpa merusak dagingnya. Hasilnya, bahan baku memiliki kualitas yang lebih baik untuk diolah menjadi berbagai produk pangan.
“Penggunaan sistem sirkulasi pada alat kami berperan layaknya bantalan air, sehingga kulit singkong bisa terkelupas dan bersih tanpa melukai dagingnya. Dengan hasil pencucian yang maksimal, UMKM nantinya bisa memproduksi keripik dengan warna yang lebih cerah dan rasa yang tidak pahit akibat sisa getah atau pasir,” kata Nova.
Di tengah persaingan 15 tim terbaik dari berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Indonesia, inovasi tersebut mencuri perhatian dewan juri. Bukan hanya karena aspek teknisnya, tetapi juga karena manfaatnya yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Di Luar Laboratorium
Dosen pendamping tim, Dr. Ir. Yepy Komaril Sofi’i, S.T., M.T., menjelaskan, keberhasilan itu menjadi bukti bahwa riset mahasiswa tidak harus berhenti di ruang laboratorium. Sebaliknya, gagasan yang lahir dari kampus dapat menjawab persoalan nyata para pelaku usaha.
Dia menilai karya tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menerjemahkan ilmu teknik menjadi solusi yang aplikatif. Ia berharap inovasi itu segera memasuki tahap produksi dan dapat digunakan secara luas.
“Inovasi ini adalah bukti bahwa mahasiswa UMM mampu menerjemahkan ilmu teknik ke dalam solusi nyata. Saya sangat berharap mesin pencuci singkong ini dapat segera diproduksi agar dirasakan manfaatnya secara langsung oleh para pelaku UMKM kita,” ujarnya. (#)
Penulis Faqih Ahmad Wafir Rahman Penyunting Terry Angria Putri Perdana