April 18, 2026, oleh Humas Universitas

pwmu.coInovasi teknologi kembali lahir dari Universitas Muhammadiyah Malang. Tim mahasiswa Program Studi Teknik Industri berhasil menciptakan mesin pengering mie otomatis berbasis Gas Heated Air Circulation Dryer, yang mampu memangkas biaya operasional sekaligus mempercepat proses produksi bagi pelaku UMKM.Selama ini, cuaca yang tidak menentu serta tingginya biaya oven listrik menjadi kendala utama bagi produsen mie kering. Menjawab persoalan tersebut, mahasiswa UMM menghadirkan solusi mesin pengering yang lebih efisien, ekonomis, dan praktis.

Ketua tim, Hanum Salsabila Djirimu, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari hasil observasi langsung terhadap pelaku UMKM.

“Kami melihat mereka masih kewalahan menggunakan oven listrik berkapasitas kecil, di mana waktu pengeringannya bisa lebih dari tiga jam. Dari situ kami bertekad merancang solusi yang lebih efisien,” ujarnya.

Tim ini juga beranggotakan Berlinda Amalia Diami, Aisyah Leilani Salsabillah, Nadhea Aurelie Salsabila, dan Frisca Shannon Alexandra.

Berbeda dengan metode konvensional, mesin ini menggabungkan sumber panas gas dengan sistem sirkulasi udara modern. Blower di dalam mesin memastikan distribusi panas merata ke seluruh ruang pengering.

Tak hanya itu, alat ini dilengkapi:

  • Sensor pengatur suhu otomatis
  • Timer digital
  • Sistem kontrol panas stabil

“Jika suhu melebihi batas, sistem akan menyesuaikan secara otomatis. Hasilnya lebih konsisten dan tidak bergantung pada cuaca,” tambah Hanum.

Dari sisi ekonomi, penggunaan bahan bakar gas dinilai jauh lebih hemat dibanding listrik atau panel surya yang membutuhkan investasi besar.

Dengan biaya pembuatan prototipe sekitar Rp3 juta, alat ini dinilai sangat realistis untuk diterapkan oleh pelaku UMKM.

Dosen pembimbing, Adhi Nugraha, mengapresiasi hasil kerja tim yang mampu mengaplikasikan teori ke dalam solusi nyata.

“Mereka tidak hanya fokus pada inovasi, tetapi juga memperhatikan aspek ekonomi agar alat ini benar-benar bisa digunakan oleh pelaku usaha kecil,” ujarnya.

Ia menilai inovasi ini mencerminkan esensi pendidikan teknik, yakni menghadirkan solusi praktis bagi masyarakat.

Inovasi Gas Heated Air Circulation Dryer menjadi bukti kontribusi nyata mahasiswa UMM dalam mendukung sektor UMKM.

Harapannya, teknologi ini tidak berhenti pada tahap prototipe, tetapi dapat diproduksi secara massal sehingga mampu membantu pelaku usaha kecil meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing.

“Kuncinya berani mencoba dan peka terhadap masalah di sekitar. Dari situlah inovasi yang bermanfaat akan lahir,” pungkas Hanum.