July 20, 2026, oleh

Makassar, panjimas – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak boleh menjadi pagar yang hanya membuat masyarakat merasa sulit masuk dan menjadi bagian dari gerakan.
Pesan tersebut ia sampaikan dalam sesi kuliah tamu dan silaturahim bersama jajaran Pimpinan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar bertempat di Ruang Rapat Senat, Lantai 17 Gedung Iqra, Kamis, (16/7).
“Muhammadiyah harus lebih inklusif. Jangan segera membuat barikade karena banyak orang menjalani proses bermuhammadiyah dalam perjalanan yang panjang,” tegas Muhadjir.
Mengisi kuliah tamu di kampus Muhammadiyah, Muhadjir menjelaskan bahwa lingkungan kampus (Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah / PTMA) bukan sekadar tempat berkumpulnya orang-orang yang sejak awal memahami dan menjalankan seluruh tradisi Muhammadiyah.
Sebaliknya, PTMA juga harus membuka ruang bagi masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Maka dari itu, Muhadjir menyebut, sektor perguruan tinggi, melalui pendidikan, interaksi akademik, keteladanan, dan pembinaan mahasiswa maupun tenaga pendidik dapat menjadi ruang mengenalkan nilai-nilai Islam dan Muhammadiyah secara bertahap.
Dalam hal ini, ia sedikit mengingat kilas baik pengalamannya ketika memimpin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia mengungkapkan bahwa UMM menerima keterbukaan mahasiswa dari beragam daerah, agama, tradisi, dan kondisi sosial.
Menurutnya, keterbukaan itu bukan berarti menghilangkan identitas Muhammadiyah, tetapi justru menjadi jalan baik untuk memperluas jangkauan dakwah.
“Jadi Perguruan tinggi Muhammadiyah adalah sarana dakwah. Jangan sampai kita terlalu keras menetapkan standar sehingga orang lain tidak bisa masuk ke dalamnya,” pesan Muhadjir.
Hal tersebut, menurut Muhadjir justru selaras dengan cita-cita Muhammadiyah. “Bukan hanya melayani kelompok internal, melainkan menghadirkan nilai Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam,” sebutnya.
Ia kemudian turut mencontohkan semangat inklusivitas itu telah dilakukan dalam layanan rumah sakit Muhammadiyah. Ia menjelaskan, ketika seseorang datang dalam keadaan sakit, rumah sakit tidak terlebih dahulu menanyakan kartu anggota organisasi, pilihan mazhab, maupun latar belakang keagamaannya. Pasien dilayani berdasarkan kebutuhan kemanusiaannya.
Semangat serupa, menurut Muhadjir, perlu dipelihara dalam lembaga pendidikan. Kampus perlu memberikan pelayanan pendidikan terbaik kepada siapa pun sekaligus memperkenalkan nilai-nilai Islam melalui praktik yang santun dan mencerahkan.
“Muhammadiyah jangan dibawa melewati jalan yang sempit. Banyak jalan untuk meraih dan mengajak masyarakat,” ujarnya.
“Semua berproses. Jangan segera menetapkan ukuran-ukuran ideal sebagai syarat awal bagi setiap orang,” imbuh mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu menambahkan.
Maka dari itu dalam kesimpulannya, Muhadjir menegaskan bahwa kekuatan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad bukan semata-mata dibangun melalui dakwah lisan atau ceramah-ceramahnya, tetapi juga melalui pelayanan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, hingga pemberdayaan masyarakat menjadi wajah dakwah Muhammadiyah yang paling dekat dengan kehidupan umat. Karena itu, ia berharap seluruh PTMA terus memperkuat perannya sebagai pusat pendidikan yang inklusif sekaligus instrumen dakwah berkemajuan