June 11, 2026, oleh Humas Universitas

Fenomena bediding di Indonesia(Tandya Rachmat/Unplash)

KOMPAS.com – Belakangan ini, sudah mulai terasa suhu dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.

Sebagian besar wilayah Indonesia tengah merasakan fenomena cuaca “bediding” atau penurunan suhu udara yang drastis.

Saat cuaca mendadak dingin, biasanya orang refleks mencari jaket atau selimut. Memang terasa hangat, tetapi udara dingin dan kering yang dihirup tetap masuk langsung ke dalam sistem pernapasan.

Sehingga akhirnya, muncul kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama bediding.

Pakar keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Titik Agustiyaningsih, memaparkan bahwa fenomena ini terjadi karena perpaduan kompleks antara faktor lingkungan dan biologis manusia.

“Angka kejadian ISPA dan influenza cenderung meningkat saat musim hujan atau ketika suhu udara menurun karena ada kombinasi faktor patogen, lingkungan, kondisi tubuh, dan perilaku manusia yang saling mendukung terjadinya penularan,” terang Titik pada Selasa (9/10/2026).

Ia menambahkan bahwa udara dingin dan kering membuat virus maupun bakteri mampu bertahan lebih lama di luar tubuh manusia, sehingga mempermudah penyebaran melalui partikel udara.

Bediding sendiri akan berlangsung sampai September, namun puncaknya pada bulan Agustus.

Mengapa mudah sakit flu kalau musim bediding?

Titik mengatakan saluran pernapasan manusia memiliki sensitivitas yang sangat tinggi terhadap perubahan suhu ekstrem.

Saat menghirup udara dingin, tubuh secara otomatis akan menyempitkan saluran napas dan memproduksi lendir lebih banyak.

Kondisi ini diperparah dengan melambatnya kinerja rambut-rambut getar (silia) di dalam hidung yang bertugas menyaring kotoran.

“Udara dingin itu mengganggu benteng pertahanan alami di dalam rongga hidung dengan menghambat produksi Extracellular Vesicles (EVs) atau sejenis komponen pertahanan lokal yang berfungsi menangkap virus,” kata Titik.

Ketika suhu udara turun drastis, tubuh sebenarnya sedang berusaha mempertahankan suhu inti agar tetap stabil.

Namun proses itu justru dapat membuat pertahanan lokal di saluran pernapasan melemah sehingga virus lebih mudah berkembang.

Bahkan, jenis virus seperti rhinovirus (pemicu flu) terbukti dapat berkembang biak jauh lebih cepat dan optimal pada suhu dingin ketimbang pada suhu normal tubuh manusia.

Perbedaan alergi dingin dan infeksi

Masyarakat juga diimbau untuk lebih jeli dalam mengenali gejala yang muncul agar tidak salah dalam melakukan penanganan.

Ada perbedaan mendasar antara alergi dingin dan infeksi bakteri atau virus.

“Jika gejalanya hanya berupa bersin-bersin, hidung gatal, atau mata berair yang langsung mereda begitu tubuh kembali hangat, kemungkinan besar itu hanyalah reaksi alergi,” tambahnya.

Namun, apabila gejala tersebut sudah disertai dengan demam, maka itu adalah tanda kuat bahwa tubuh sedang mengalami infeksi (ISPA).

Pakaian tebal saja tidak cukup

Menghadapi cuaca ekstrem seperti ini, memakai pakaian tebal atau jaket saja rupanya belum cukup untuk melindungi diri.

Terutama bagi anak-anak, lansia, perokok, penderita sinusitis, hingga orang yang bekerja seharian di ruangan ber-AC harus melatih kewaspadaan ekstra.

Untuk mencegah penularan, Titik mengatakan perlu rajin meminum air hangat. Selain itu, asupan nutrisi seperti Vitamin A, Vitamin D, serta lemak sehat yang mengandung omega-3 sangat disarankan untuk mendongkrak sistem imun.

“Memakai jaket memang penting untuk melindungi tubuh dari udara dingin. Namun menjaga hidrasi, nutrisi, dan daya tahan tubuh jauh lebih penting karena pertahanan utama terhadap penyakit sebenarnya berasal dari dalam tubuh,” pungkas Titik.