June 13, 2026, oleh

news.immigration.gov.tw-Sejumlah wilayah di Indonesia mulai mengalami penurunan suhu udara yang cukup terasa dalam beberapa pekan terakhir. Fenomena musiman yang dikenal sebagai bediding menghadirkan udara yang lebih dingin dan kering, sehingga berpotensi memengaruhi kesehatan saluran pernapasan masyarakat.
Pakar keperawatan dari Universitas Muhammadiyah Malang, Titik Agustiyaningsih, menjelaskan bahwa kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) maupun influenza umumnya meningkat ketika suhu udara menurun atau saat musim hujan berlangsung. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor lingkungan, keberadaan patogen, serta respons biologis tubuh manusia.
Menurutnya, udara yang lebih dingin dan kering memungkinkan virus maupun bakteri bertahan lebih lama di lingkungan luar sehingga peluang penyebarannya melalui udara menjadi lebih besar. Fenomena bediding diperkirakan berlangsung hingga September dengan puncak suhu terendah terjadi pada Agustus.
Ia menjelaskan bahwa saluran pernapasan manusia sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Saat menghirup udara dingin, tubuh akan merespons dengan menyempitkan saluran napas dan meningkatkan produksi lendir. Pada saat yang sama, kinerja silia di rongga hidung yang berfungsi menyaring partikel asing dapat menurun.
Penurunan suhu juga dapat memengaruhi sistem pertahanan lokal di hidung sehingga kemampuan tubuh dalam menangkap dan menahan virus menjadi berkurang. Kondisi tersebut membuat patogen lebih mudah berkembang di saluran pernapasan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa rhinovirus, salah satu penyebab utama flu, dapat berkembang lebih efektif pada suhu yang lebih rendah dibandingkan suhu normal tubuh manusia. Karena itu, masyarakat dianjurkan menjaga kondisi tubuh, menggunakan pakaian yang cukup hangat, serta menerapkan pola hidup sehat selama musim bediding berlangsung.