May 23, 2026, oleh Humas Universitas

Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik MSi menyampaikan kritik terhadap birokratisasi pendidikan. (Humas UMM/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Di tengah maraknya keluhan pendidik terkait beratnya beban birokrasi yang kerap menyita waktu mengajar, kritik tajam sekaligus reflektif mengemuka dari mimbar akademik. Kualitas pendidikan dinilai tidak akan pernah menguat jika sekolah terus terjebak mengejar formalitas administrasi, tetapi abai membangun ekosistem belajar yang sehat.

Peringatan tersebut disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Nazaruddin Malik MSi dalam Malik Fadjar Bootcamp bertajuk “Manajemen Kelembagaan Sekolah” yang diinisiasi Rumah Baca Cerdas (RBC) Abdul Malik Fadjar Institute. Kegiatan ini dihadiri puluhan akademisi dan pengelola sekolah Muhammadiyah se-Malang Raya pada Jumat (22/5/2026).

Dalam stadium generale tersebut, Nazar, sapaan akrabnya, menyoroti ketimpangan distribusi dan kompetensi guru sebagai salah satu akar menurunnya mutu pendidikan nasional. Ia menjelaskan bahwa hingga kini masih banyak tenaga pengajar yang terpaksa bekerja tidak sesuai bidang keahliannya.

Ironisnya, di tengah keterbatasan tersebut, sekolah justru terus ditekan memenuhi berbagai target administratif yang sering kali tidak selaras dengan esensi peningkatan kualitas belajar siswa. Kondisi itu dinilai tidak hanya menggerus kualitas pembelajaran, tetapi juga mengancam kredibilitas lembaga pendidikan di mata publik.

“Kalau guru mengajar tidak sesuai kompetensinya, dampaknya panjang. Mutu sekolah turun, kepercayaan masyarakat ikut turun, dan akhirnya sekolah kehilangan daya saing,” ujarnya.

Lebih lanjut, Nazar mengkritik fenomena birokratisasi pendidikan yang dinilai semakin mencengkeram kebebasan berekspresi institusi pendidikan. Banyak sekolah perlahan berubah menjadi institusi yang sibuk mengejar pengakuan administratif dan terlalu fokus memoles citra luar, sehingga melupakan pentingnya school leadership.

Karena itu, pendidikan berbasis masyarakat seperti sekolah Muhammadiyah dituntut tidak sekadar mengekor pola kerja birokrasi, melainkan berani berinovasi sesuai kebutuhan sosial di sekitarnya.

“Sekolah perlahan berubah menjadi institusi yang sibuk mengejar formalitas, tetapi kehilangan keberanian membaca kebutuhan riil. Kita jangan hanya sibuk selebrasi dan pencitraan. Yang lebih penting adalah bekerja tenang, membangun kualitas secara konsisten, dan memberi kontribusi nyata,” tegasnya.

Selain persoalan sistemik, Nazar juga menyoroti masih melekatnya stigma yang menempatkan profesi guru sebagai pekerjaan kelas dua. Pandangan tersebut dinilai membuat banyak generasi muda berprestasi enggan menjadikan dunia pendidikan sebagai pilihan karier utama.

Padahal, maju mundurnya kualitas pendidikan masa depan sangat bergantung pada sejauh mana profesi guru dihargai, baik secara sosial maupun intelektual.

“Jika guru merasa second class, sekolah akan sulit berkembang. Pendidikan membutuhkan orang-orang yang percaya bahwa profesi ini adalah jalan pengabdian sekaligus jalan membangun peradaban,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Nazar menegaskan bahwa manajemen kelembagaan sekolah sejatinya merupakan seni membangun sistem yang hidup, bukan sekadar mengelola tumpukan dokumen dan laporan.

Menurutnya, kualitas pendidikan sejati tidak lahir dari deretan slogan besar, melainkan dari konsistensi merawat ekosistem yang sehat antara sekolah, pendidik, siswa, orang tua, dan masyarakat. Lembaga pendidikan yang kuat bukan hanya yang mampu meluluskan siswa bernilai akademik tinggi, tetapi juga berhasil mencetak manusia berkarakter tangguh dalam menghadapi dinamika perubahan zaman.

(Faqih/AS)