May 30, 2026, oleh Humas Universitas

Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik menyampaikan khutbah Idul Adha 1447 H di halaman Masjid Akbar Moed’har Arifin, Sedayu, Gresik. (Humas UMM/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Peringatan Idul Adha tidak semestinya dimaknai sebatas ritual penyembelihan hewan kurban. Di tengah tantangan pemulihan ekonomi dan kesenjangan sosial yang masih terjadi, momentum Idul Adha harus menjadi sarana memperkuat kepedulian sosial sekaligus menggerakkan kesejahteraan ekonomi umat.

Pesan tersebut disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Nazaruddin Malik SE MSi dalam Shalat Idul Adha 1447 Hijriah di halaman Masjid Akbar Moed’har Arifin, Sedayu, Gresik, Rabu (27/5/2026).

Menurutnya, keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengajarkan totalitas pengabdian dan pengorbanan kepada Allah SWT yang diwujudkan melalui kesalehan spiritual dan sosial secara bersamaan.

“Idul Adha harus membentuk pribadi yang rela memberi, bukan hanya pandai memiliki; rela berbagi, bukan hanya sibuk menumpuk,” ujarnya.

Nazaruddin menjelaskan, nilai kurban dapat dipahami melalui perspektif Tauhid Rahmatiyah, yakni pemahaman tauhid yang tidak berhenti pada aspek ritual semata, tetapi harus melahirkan manfaat sosial bagi masyarakat.

Menurutnya, tauhid yang sejati harus mencerminkan sifat kasih sayang Allah SWT sehingga mampu menghadirkan kesejahteraan, mengembangkan ekonomi peradaban, dan menebarkan kedamaian.

“Ukuran keberhasilan tauhid bukan hanya seberapa tepat rumusan akidah seseorang, tetapi apakah tauhid itu melahirkan rahmat sosial dan membuat manusia hidup lebih sejahtera,” katanya.

Dia menambahkan, nilai tersebut tercermin dalam pengelolaan dan distribusi daging kurban. Jika dilakukan secara profesional dan amanah, kurban dapat menjadi instrumen pemerataan manfaat sekaligus mendukung pemberdayaan peternak lokal.

Selain itu, panitia kurban juga perlu memastikan distribusi daging menjangkau masyarakat yang membutuhkan, termasuk mereka yang mengalami kesulitan ekonomi tetapi menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta-minta.

“Dengan semangat ini, kurban menjadi pelajaran bahwa setiap nikmat harus dikelola dengan benar dan dibagikan secara adil,” tambahnya.

Nazaruddin menegaskan, semangat berkorban dan berbagi tidak boleh berhenti setelah bulan Zulhijah berakhir. Ibadah kurban harus menjadi titik awal untuk membangun budaya kejujuran, kepedulian tanpa pamrih, penguatan ekonomi halal, serta pelayanan kepada kaum duafa secara berkelanjutan.

(Faqih/AS)