July 1, 2026, oleh

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG – Penghentian sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dinilai memengaruhi dinamika pasokan dan harga sejumlah komoditas pangan, khususnya telur dan daging ayam.
Kondisi tersebut diperkirakan bersifat sementara, namun perlu terus dipantau ketika program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan.
Ekonom muda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus kandidat doktor Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya (UB) Malang, M Rofik, mengatakan sejak awal pelaksanaan MBG, permintaan terhadap telur dan ayam meningkat tajam karena kebutuhan rumah tangga harus berbagi dengan kebutuhan dapur SPPG.
“Pada awal program MBG kita sempat mengalami kekurangan suplai telur dan ayam karena permintaannya meningkat.”
“Selain konsumsi rumah tangga, ada kebutuhan dari SPPG sehingga pemasok akhirnya meningkatkan produksinya,” ujar Rofik kepada SURYAMALANG.COM, Selasa (30/6/2026).
Menurutnya, para pemasok sudah berasumsi bahwa program MBG akan berjalan secara berkelanjutan.
Namun ketika operasional SPPG dihentikan sementara, permintaan mendadak turun sehingga terjadi kelebihan pasokan di tingkat produsen.
“Ketika ada kebijakan baru dan SPPG berhenti sementara, akhirnya terjadi over supply sementara. Ini hal yang wajar dalam mekanisme pasar,” katanya.
Namun begitu, Rofik menilai kondisi tersebut perlu diamati lebih lanjut ketika SPPG kembali beroperasi.
Jika harga komoditas kembali naik, maka program MBG memang berkontribusi terhadap tekanan inflasi pangan.
“Nanti ketika SPPG beroperasi lagi, perlu dilihat apakah harga kembali stabil atau justru naik lagi.”
“Kalau naik lagi, berarti memang ada pengaruh tambahan permintaan dari program MBG terhadap inflasi pangan,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan inflasi tidak selalu berdampak negatif. Dalam ilmu ekonomi makro, inflasi yang terkendali justru menjadi indikator ekonomi yang sehat karena mendorong aktivitas konsumsi masyarakat.
“Inflasi yang terjaga itu baik. Misal orang terdorong membeli properti karena memperkirakan harganya akan lebih mahal di masa depan,” ujarnya.
Sebaliknya, kalau deflasi, masyarakat cenderung menunda pembelian karena harga semakin turun.