July 8, 2026, oleh

Tagar.co – Ekosistem Energi Baru Terbarukan (EBT) UMM menciptakan Prototipe Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) pada awal Juli 2026.
Sekelompok pelajar ikut andil di dalamnya. Mereka mencatat, mengukur, lalu membayangkan bagaimana aliran air mampu menjadi sumber listrik bagi masyarakat yang belum menikmati pasokan energi memadai.
Pengalaman diperoleh Muhammad Luthfi Aziz, siswa kelas XII SMA Darul Ulum 1 Unggulan Peterongan, Jombang, bersama timnya saat mengikuti pemusatan Bina Talenta Indonesia (BTI) 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 1–7 Juli 2026.
Program binaan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah itu mempertemukan pelajar dengan dosen serta praktisi bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Melalui ekosistem Energi Baru Terbarukan (EBT) yang dibangun UMM, peserta memperoleh kesempatan mempelajari teknologi secara langsung, bukan hanya dari ruang kelas.
Kunjungan ke PLTMH binaan UMM di Sumber Maron membuka perspektif baru bagi Luthfi. Ia melihat bagaimana pembangkit skala kecil mampu mendukung kebutuhan energi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Baru kali ini saya melihat kampus dengan penerapan EBT yang sangat maksimal. Para pakar dari UMM hadir selama workshop dan memberikan kami bekal keilmuan STEM yang nyata. Kegiatan ini untuk merancang prototipe kelistrikan bagi daerah terpencil,” kata Luthfi, Senin (6/7/2026).
Kesempatan itu tidak berhenti pada sesi observasi. Pengalaman lapangan segera berubah menjadi gagasan yang terwujud melalui rancangan teknologi baru.
Berbekal pengalaman tersebut, Luthfi bersama timnya merancang purwarupa Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro dengan slogan Airnya Ngalir, Energinya Hadir!

Prototipe Lahir Untuk Meningkatkan Kebutuhan Energi Dunia
Prototipe itu lahir sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan energi dunia. Di sisi lain, ketergantungan terhadap bahan bakar fosil masih mendominasi sistem energi nasional. Kondisi tersebut mendorong peserta BTI mencari alternatif pembangkit yang lebih sederhana, murah, sekaligus ramah lingkungan.
Karena itu, mereka memilih memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber energi utama. Mereka beranggapan, air yang mengalir mampu menghasilkan listrik tanpa meninggalkan jejak emisi sebesar pembangkit berbahan bakar fosil.
Namun, tim tidak hanya merancang sistem mekanik. Mereka juga mengintegrasikan teknologi digital agar pembangkit bekerja lebih efisien dan aman.
Luthfi menjelaskan, dalam prototipe tersebut terdapat sensor berbasis Internet of Things (IoT). Sistem itu memantau stabilitas listrik sekaligus membaca kondisi lingkungan secara berkelanjutan.
Selain mengukur debit air, sensor mampu mendeteksi potensi banjir bandang. Sistem juga menganalisis kemungkinan gangguan pada instalasi pembangkit sehingga kerusakan dapat terlihat lebih cepat.
“Sistem IoT ini memungkinkan kami memantau stabilitas listrik, debit air, hingga potensi bencana secara real-time dari jarak jauh. Jadi, inovasi ini memberikan pemerataan akses listrik bagi masyarakat pedalaman, dan memastikan ekosistem alamnya tetap terjaga dengan aman,” ujar Luthfi.
Dengan pendekatan tersebut, purwarupa itu menjadi model pembangkit yang dapat bermanfaat di wilayah 3T, yakni daerah terdepan, terluar, dan tertinggal.

Merancang Purwarupa
Bagi UMM, keberhasilan peserta merancang purwarupa bukan sekadar hasil kompetisi. Kampus memandang proses tersebut sebagai bagian dari pembentukan talenta yang mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Ketua Pelaksana BTI UMM, Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd., mengatakan kampus berkomitmen menghadirkan ruang belajar yang mempertemukan teori dengan praktik.
Menurutnya, mahasiswa dan pelajar memerlukan ekosistem riset yang memungkinkan ide berkembang hingga menjadi solusi yang dapat diterapkan.
Karena itu, UMM membuka akses terhadap laboratorium, fasilitas energi terbarukan, serta pendampingan dosen selama proses pengembangan inovasi berlangsung.
“UMM selalu siap menjadi laboratorium hidup yang sesungguhnya bagi para pelajar. Kami sangat berharap prototipe teknologi hijau karya peserta BTI ini dapat terus disempurnakan hingga tahap hilirisasi dan produksi nyata, sehingga kemandirian energi nasional benar-benar terwujud lewat tangan generasi penerus kita,” tegas Dyah.
Pernyataan tersebut menegaskan, inovasi tidak lahir hanya dari kecanggihan teknologi. Inovasi tumbuh ketika pengetahuan bertemu pengalaman lapangan bersama dengan ekosistem yang memberi ruang untuk bereksperimen.
Di Sumber Maron, suara air yang menggerakkan turbin akhirnya juga menggerakkan imajinasi. Dari sana, sekelompok pelajar membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman.
Mereka membawa keyakinan bahwa energi masa depan dapat bermula dari sungai kecil, dirancang di laboratorium kampus, lalu menerangi daerah yang selama ini masih berada dalam gelap. (#)