May 18, 2026, oleh

Pemimpin sejati jangan hanya mendengarkan dari pidatonya. Lihat bagaimana ia bersikap ketika tidak sedang tampil. Lihat keputusan-keputusannya saat tidak populer. Itulah watak aslinya.
tagar.co – Oleh Nurudin, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
“Rupiah begini, dolar begitu. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan?”
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat peresmian Museum HAM Marsinah di Nganjuk, Sabtu (16/5/2026), sempat memantik perhatian publik. Kalimat itu terdengar sederhana.
Bahkan bagi sebagian orang terasa merakyat. Ada kesan ingin menunjukkan gejolak nilai tukar rupiah tidak terlalu berdampak langsung pada masyarakat kecil di desa.
Namun dari situlah sebenarnya publik bisa belajar satu hal penting. Dalam melihat seorang pemimpin, masyarakat tidak cukup hanya mendengar pidato atau potongan pernyataan yang terdengar menarik di permukaan.
Karena pidato sering hanya menjadi front stage. Sebuah panggung depan yang memang dirancang untuk konsumsi publik.
Sosiolog Erving Goffman pernah menjelaskan konsep dramaturgi dalam kehidupan sosial. Ia membagi perilaku manusia menjadi dua ruang yakni front stage dan back stage. Front stage adalah panggung depan. Tempat seseorang menampilkan citra terbaiknya di depan publik.
Sementara back stage adalah ruang belakang. Tempat karakter asli muncul tanpa tata cahaya dan tanpa tepuk tangan.
Dalam politik, konsep ini terasa sangat relevan. Seseorang bisa terlihat merakyat di depan kamera. Bisa berbicara tentang kejujuran, kesederhanaan, dan bahkan pengorbanan. Namun di belakang layar, perilakunya bisa bertolak belakang. Karena itu masyarakat sebenarnya tidak cukup hanya mendengar pidato. Mereka harus melihat konsistensi tindakan. Sayangnya, publik sering berhenti pada kesan permukaan.
Saat ini mayoritas masyarakat Indonesia mengakses berita melalui media sosial dan platform digital. Artinya, mayoritas publik hari ini lebih banyak mengonsumsi tampilan visual dan potongan narasi singkat dibanding membaca konteks utuh.
Akibatnya, pencitraan menjadi sangat mudah diproduksi. Yang viral dianggap paling benar. Dampaknya, yang paling sering muncul dianggap paling bekerja. Mereka yang pandai menyusun kata dianggap paling memahami rakyat. Padahal realitas tidak sesederhana itu.
Percaya Tampilan
Dalam buku Ilmu Komunikasi Ilmiah dan Populer (2020), saya pernah mengutip pendapat psikolog komunikasi Albert Mehrabian. Ia pernah melakukan penelitian tentang komunikasi nonverbal pada akhir 1960-an.
Dari penelitian itulah Mehrabian menemukan dalam komunikasi yang menyangkut perasaan dan sikap, hanya 7 persen makna yang berasal dari kata-kata. Sementara 38 persen dipengaruhi nada suara, dan 55 persen berasal dari ekspresi wajah serta bahasa tubuh.
Meski teori ini sering disalahpahami sebagai rumus universal komunikasi, inti pesannya tetap relevan. Manusia ternyata lebih percaya pada gestur, ekspresi, dan konsistensi perilaku dibanding sekadar kata-kata.
Oleh karena itu publik sebenarnya bisa membaca siapa yang tulus dan siapa yang sekadar memainkan panggung. Masalahnya, masyarakat sering terlalu sibuk menikmati kemasan luar.
Kita hidup di era ketika yang tampak sering lebih penting dibanding isi. Politik berubah menjadi produsen citra. Semua dikemas rapi, bisa dramatis. Nah, empati pun kadang diproduksi layaknya konten. Padahal inti komunikasi justru sering terletak pada apa yang tidak diucapkan.
Misalnya, perhatikan cara seseorang memperlakukan bawahan. Atau cara mengambil keputusan saat krisis. Mungkin juga saat sedang tidak direkam kamera. Semua itu jauh lebih jujur dibanding pidato penuh retorika.
Penelitian Edelman, Trust Barometer (2024), juga menunjukkan fenomena menarik. Secara umum, 63 persen masyarakat khawatir pemimpin publik sengaja menyebarkan informasi menyesatkan demi kepentingan tertentu.
Orang bisa jadi mulai lelah dengan kata-kata besar tanpa tindakan nyata. Namun di Indonesia, budaya simbolik masih sangat kuat. Lihat spanduk besar dipajang. Slogan-slogan yang sangat heroik. Semua itu tampak megah di permukaan. Tetapi substansi sering tertinggal jauh di belakang.
Kita lebih mudah terpukau oleh gaya bicara dibanding keberanian mengambil keputusan sulit. Kita lebih cepat kagum pada pencitraan dibanding kerja sunyi yang hasilnya nyata. Padahal kepemimpinan bukan kompetisi siapa paling pandai tampil di depan kamera.
Tak Harus Ada Tepuk Tangan
Perjuangan menghadirkan kesadaran publik memang tidak mudah. Jalannya panjang dan menikung. Kondisi itu memang melelahkan. Bahkan sering menghadirkan tumbal.
Mereka yang memilih bekerja dalam diam sering kalah populer dibanding mereka yang sibuk membangun citra. Mereka yang fokus pada hasil kadang kalah sorotan dibanding mereka yang piawai memainkan emosi publik. Tetapi sejarah biasanya jauh lebih jujur dibanding suasana sesaat.
Banyak tokoh besar justru tidak terlalu sibuk membangun pencitraan. Mereka lebih fokus bekerja. Mereka tahu tidak semua hal harus diumumkan. Juga, tidak semua tindakan perlu dipuji. Tidak semua perjuangan harus tampak heroik di depan kamera. Karena tujuan besar memang membutuhkan kesabaran panjang.
Di titik inilah masyarakat sebenarnya diuji. Apakah ingin terus menjadi penonton yang hanya menikmati panggung depan, atau mulai belajar memahami ruang belakang yang lebih sunyi namun lebih jujur.
Kedewasaan publik ditentukan oleh kemampuan membedakan mana yang esensi dan mana yang artifisial. Sebab bangsa yang terlalu mudah terpukau oleh tampilan luar akan terus melahirkan pemimpin-pemimpin pencitraan. Sebaliknya bangsa yang mulai menghargai integritas dan kerja nyata akan perlahan melahirkan kepemimpinan yang lebih sehat.
Jika ingin mengenal siapa pemimpin sejati, jangan hanya dengarkan pidatonya. Lihat bagaimana ia bersikap ketika tidak sedang tampil. Lihat keputusan-keputusannya saat tidak populer.
Lihat apakah tindakannya tetap sama ketika kamera mati. Karena karakter asli manusia tidak muncul di atas panggung. Karakter asli muncul saat tidak ada yang melihat. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto