March 17, 2026, oleh Humas Universitas

Mengamati hilal dalam menentukan 1 Syawal. (FOTO: Tempo.co)

TIMES JATIM – MALANGPenentuan awal Hari Raya Idul Fitri dalam kalender Hijriah tidak hanya didasarkan pada perkiraan tanggal, tetapi melalui perhitungan astronomi dan pengamatan hilal. Proses tersebut menjadi dasar bagi berbagai organisasi Islam dan pemerintah dalam menetapkan awal bulan Syawal.

Pakar Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM Malang), M. Syamsu Alam D., S.H., M.Ag.,  menjelaskan bahwa penentuan awal bulan Qomariyah, termasuk Syawal 1447 Hijriah, dilakukan dengan metode yang berbeda di tiap organisasi. Muhammadiyah, misalnya, kini menggunakan kriteria Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang bersifat global.

“Dalam KHGT, penentuan awal bulan tidak lagi berbasis wilayah lokal, tetapi melihat terpenuhinya kriteria secara global. Jika di suatu wilayah di dunia hilal sudah memenuhi syarat, maka awal bulan bisa ditetapkan,” jelasnya saat diwawancarai pada Senin (16/3/2026).

Berdasarkan perhitungan hisab astronomi versi Muhammadiyah, konjungsi atau ijtimak pada akhir Ramadan 1447 H diperkirakan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 sekitar pukul 08.23 WIB. Karena pada tanggal 29 Ramadan belum terjadi konjungsi, maka Ramadan digenapkan menjadi 30 hari.

article
Pengamatan penetapan 1 Syawal versi Muhammadiyah. (FOTO: Tangkapan Layar PPT)

Dengan perhitungan tersebut, Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Napak Tilas Armusna Bekal Mental dan Fisik Jelang Haji

Sementara itu, menurut Syamsu, bagi pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Persatuan Islam (Persis) menggunakan kriteria MABIMS dalam menentukan awal bulan Hijriah. Kriteria tersebut mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi atau jarak sudut antara bulan dan matahari minimal 6,4 derajat.

Dari hasil perhitungan astronomi, tinggi hilal di wilayah timur Indonesia seperti Jayapura pada 19 Maret diperkirakan hanya sekitar 1 derajat dengan elongasi sekitar 4 derajat, sehingga belum memenuhi kriteria MABIMS.

Namun di wilayah barat Indonesia, seperti Sabang di Aceh, tinggi hilal diperkirakan mencapai sekitar 3 derajat, meskipun elongasinya masih berada di sekitar 6 derajat. Berdasarkan data tersebut, kemungkinan besar pemerintah dan NU akan menetapkan awal Syawal pada Sabtu, 21 Maret 2026, menunggu hasil sidang isbat. Keduanya sama-sama menggenapkan bulan puasa 30 hari.

Selain metode perhitungan, kondisi alam juga menjadi faktor penting dalam pengamatan hilal. Faktor cuaca seperti mendung atau hujan dapat menghambat proses rukyatul hilal.

“Cuaca menjadi faktor utama dalam pengamatan hilal. Jika langit tertutup awan atau hujan, maka hilal tidak dapat terlihat,” imbuhnya.

Ahli Waris Ojek Online di Kota Batu Terima Santunan Rp42 Juta

Selain itu, polusi cahaya dari lampu kota maupun sisa cahaya syafaq juga dapat mengganggu pengamatan. Faktor lain yang memengaruhi adalah ketinggian hilal dari cakrawala.

“Itulah mengapa pengamatan dilaksanakan tepat setelah matahari terbenam,” lanjutnya.

Semakin rendah posisi hilal, semakin sulit untuk diamati karena kontras cahayanya sangat tipis dan tertutup cahaya syafaq. Oleh karena itu, meskipun perhitungan astronomi dapat memprediksi posisi hilal, pengamatan langsung tetap dilakukan untuk memastikan keberadaannya.

“Hisab memberikan panduan posisi hilal, sementara rukyat menjadi pembuktian visual di lapangan. Kedua metode ini saling melengkapi,” pungkasnya. (*)

Pewarta: Miranda Lailatul Fitria


Sumber: TIMES INDONESIA