January 13, 2026, oleh

suaraaisiyah.id – Kehidupan keluarga modern menunjukan teknologi mendominasi keseharian orang tua. Dalam hal bekerja, berkomunikasi, dan melakukan berbagai hiburan, manusia tidak bisa terlepas dari teknologi.
Interaksi yang semula bersifat tatap muka dan penuh perhatian, kini tidak jarang tergantikan oleh kehadiran perangkat digital. Sehingga kualitas hubungan emosional antara orang tua dan anak berpotensi mengalami penurunan (Fajar dkk., 2025).
Ketika orang tua lebih sering terfokus pada teknologi dibandingkan pada interaksi langsung dengan anak, anak dapat merasa diabaikan atau kurang diperhatikan. Selain itu, kurangnya keterlibatan orang tua juga dapat memengaruhi kemampuan anak. Mereka akan merasa susah membangun hubungan sosial, serta mengelola tekanan yang muncul dalam lingkungan sekolah maupun pergaulan (Kusuma, 2025).
Menanggapi fenomena tersebut, diperlukan pemahaman mendalam tentang pengaruh teknologi terhadap peran orang tua dan dampaknya pada kesehatan mental anak. Hal ini agar pengasuhan bisa berjalan adaptif, seimbang, berorientasi pada kebutuhan emosional-psikologis di era teknologi pesat (Fatih dkk., 2025).
Aesong (2023) menjelaskan, bahwa perkembangan teknologi dan informasi di era sekarang terutama penggunaan pangkat digital, telah mempengaruhi kehidupan anak (Herimanto dan Winarno,2012:161)”.
Hal tersebut menegaskan bahwa anak-anak yang hidup di era milenial pasti dipengaruhi oleh teknologi digital. Tidak heran jika anak-anak sekarang dikategorisasi sebagai generasi digital. Memang sulit untuk menghindarkan anak dari penggunaan gedget.
Anak dengan keterlibatan orang tua tinggi lebih tangguh mental, sedangkan dominasi teknologi dan kesibukan memicu risiko kekosongan emosional anak modern. Kurangnya interaksi langsung dapat membuat anak merasa tidak didengar dan tidak dipahami. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kestabilan mentalnya.
Di sinilah dibutuhkan peran orang tua yanh tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga mencakup pendampingan emosional yang konsisten, sebagai fondasi utama kesehatan mental anak (Sit, 2025).
Dampak Positif Kemajuan Teknologi terhadap Peran Orang Tua
Teknologi yang dimanfaatkan tepat, tentu dapat memperluas akses informasi pengasuhan sehat, perkembangan psikologis anak, serta edukasi kesehatan mental keluarga. Oleh karena akses informasi tersebut, orang tua dapat memperoleh pengetahuan yang lebih lengkap dan terkini mengenai cara mendampingi anak secara efektif. Peran mereka tidak hanya terbatas pada fungsi fisik atau administratif, tetapi juga mencakup pendampingan emosional yang lebih matang (Hijrianti, 2025).
Penggunaan aplikasi edukatif dan media pembelajaran digital juga dapat menjadi sarana yang efektif untuk mendukung kegiatan belajar anak di rumah. Orang tua tetap merasa terlibat dan anak mendapatkan perhatian yang diperlukan untuk pertumbuhan kognitif maupun emosional (Ulfadhilah, 2025).
Dengan demikian, keberhasilan teknologi dalam mendukung pengasuhan sangat bergantung pada kemampuan orang tua untuk menyeimbangkan penggunaannya, menjaga kualitas interaksi langsung, serta menjadikan teknologi sebagai alat bantu yang memperkuat, bukan menggantikan, peran utama mereka dalam mendampingi perkembangan anak (Jonathan, 2025).
Strategi Mengembalikan Keseimbangan Peran Orang Tua di Tengah Kemajuan Teknologi
Orang tua perlu menyadari bahwa kehadiran secara fisik saja tidak cukup, melainkan harus disertai dengan keterlibatan emosional yang nyata. Menyediakan waktu khusus untuk berinteraksi langsung dengan anak sangat diperlukan. Misalnya berbincang, bermain, atau melakukan aktivitas bersama tanpa gangguan perangkat digital. Hal ini dapat membantu memperkuat ikatan emosional dan menciptakan rasa aman bagi anak.
Waktu kebersamaan tersebut menjadi ruang penting bagi anak untuk mengekspresikan perasaan, berbagi pengalaman, serta mendapatkan perhatian penuh dari orang tua (Tricintya, 2025)
Literasi digital memungkinkan orang tua untuk mengenali tanda-tanda penggunaan teknologi yang berlebihan pada anak serta mengambil langkah pencegahan sebelum berdampak pada kesehatan mentalnya. Orang tua dituntut untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman agar tetap relevan dalam menjalankan perannya (Maha, 2025)
Pengasuhan partisipatif menyeimbangkan peran orang tua, menjadikan teknologi pendukung hubungan keluarga harmonis. Melalui penerapan strategi-strategi tersebut, peran orang tua dapat tetap terjaga secara seimbang dan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan emosional serta kesehatan mental anak di tengah tantangan era digital (Suryani, 2025)
Melalui strategi tersebut, orang tua dapat tetap hadir secara utuh dalam kehidupan anak, sehingga kesehatan mental anak dapat terjaga di tengah perkembangan teknologi.
*Mahasiswa S1 Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)