November 28, 2025, oleh

POJOKSATU.id – Perjalanan Fida Pangesti SPd MA, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menuju studi doktoral di Austria menyimpan cerita yang panjang, penuh putaran, sekaligus inspiratif.
Ia sudah mengincar beasiswa IASP sejak dua tahun lalu, meski saat itu masih terkendala syarat tahun kelulusan yang belum terpenuhi.
Nah, justru rangkaian pengalamannya—mulai Microcredential Literacy di Western Sydney University Australia pada 2023 hingga program PKBI di UPI Bandung pada 2024, membuka jalur baru yang mempertemukannya dengan dua minat besarnya: pengajaran tata bahasa Indonesia dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Austria menjadi pilihannya bukan hanya karena kualitas akademiknya yang kuat, tetapi juga karena lingkungan studi yang aman, inklusif, dan ramah bagi peneliti internasional.
“Saya sudah mengetahui beasiswa IASP sejak dua tahun lalu dan tertarik karena kualitas institusi di Austria. Ketika syarat masa kelulusan magister dihapus, saya merasa inilah waktunya mencoba. Perjalanan akademik sejak 2023 justru menjadi pintu yang mengarahkan saya sampai ke titik ini,” ujarnya, Rabu (26/11/2025).
Seleksi Ketat dan Tantangan Supervisor
Proses seleksi beasiswa berlangsung cukup intens, mulai seleksi berkas hingga wawancara luring bersama empat pewawancara Austria dan satu pewawancara Indonesia.
Wawancara pun langsung masuk ke inti riset yang ia ajukan, tanpa basa-basi.
“Yang paling menantang adalah mencari supervisor karena banyak yang menolak topik saya. Wawancara juga langsung masuk ke riset tanpa perkenalan, seperti seminar proposal versi kilat,” katanya.
Riset: AI untuk Tingkatkan Kesadaran Kebahasaan
Penelitian doktoral Fida mengusung topik AI-Assisted Grammar Learning in Indonesian as a Foreign Language.
Fokusnya pada bagaimana generative-AI dapat meningkatkan metalinguistic awareness atau kesadaran kebahasaan pemelajar BIPA.
Menurutnya, tata bahasa sering dianggap “menguras tenaga” baik bagi pengajar maupun pemelajar.