June 5, 2026, oleh

Kedatangan mahasiswa dari Negeri Gajah Putih tersebut disambut langsung oleh Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS.
Menurutnya, program pertukaran mahasiswa menjadi momentum penting untuk melakukan studi komparatif terkait sistem pendidikan, pelayanan kesehatan, serta praktik fisioterapi yang diterapkan di masing-masing negara.
“Silakan ambil banyak pelajaran selama berada di Indonesia, khususnya di UMM. Thailand dan Indonesia tentu memiliki sistem pelayanan kesehatan yang berbeda, sehingga pengalaman ini dapat menjadi ruang belajar yang sangat baik untuk memahami berbagai pendekatan dalam dunia kesehatan dan fisioterapi,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengalaman lintas negara seperti ini sangat penting untuk membentuk tenaga kesehatan yang memiliki perspektif global dan mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia kesehatan internasional.
Kemitraan antara Program Studi Fisioterapi UMM dan Mahidol University telah terjalin selama tiga tahun terakhir.
Kedatangan mahasiswa pada tahun 2026 ini menjadi batch kelima dari program kerja sama yang terus berkembang antara kedua perguruan tinggi tersebut. Hal ini menunjukkan komitmen bersama dalam membangun kolaborasi akademik yang berkelanjutan.
Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman akademik, tetapi juga kesempatan untuk memahami budaya, sistem pendidikan, dan layanan kesehatan di negara mitra.
Salah satu mahasiswa Mahidol University, Siwat Matro, mengaku memperoleh banyak pengalaman baru selama mengikuti program pertukaran di UMM.
Menurutnya, pembelajaran di Program Studi Fisioterapi UMM memberikan perspektif berbeda mengenai pendekatan keilmuan fisioterapi dan pelayanan kesehatan masyarakat.
Selain mengikuti kegiatan akademik, ia juga berkesempatan melakukan praktik langsung di puskesmas.
“Kesempatan berpraktik langsung di Puskesmas membuat saya lebih memahami sistem penanganan kesehatan tingkat dasar dan pendekatan preventif di Indonesia. Pengalaman ini sangat berharga untuk saya bawa kembali ke Mahidol University,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., menegaskan bahwa program internasionalisasi tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga penguatan kemampuan komunikasi lintas budaya.
Menurutnya, interaksi langsung dengan mahasiswa dari berbagai negara dapat memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kepekaan sosial peserta didik.
Ia berharap program serupa dapat terus dikembangkan sehingga semakin banyak mahasiswa yang memperoleh pengalaman internasional.
Melalui sinergi lintas negara, FIKES UMM berupaya mencetak tenaga kesehatan profesional yang tidak hanya unggul secara klinis, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi global, kepekaan sosial, dan kemampuan beradaptasi terhadap berbagai tantangan kesehatan dunia.