April 7, 2026, oleh

Prof Chun-Yen Chang dari National Taiwan Normal University memberikan kuliah tamu di PPG UMM. (Humas UMM/Klikmu.co)
KLIKMU.CO – Kehadiran Artificial Intelligence (AI) bukan hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga menghadirkan ancaman nyata bagi kapasitas berpikir mendalam jika tidak disikapi dengan bijak. Mengantisipasi disrupsi tersebut, Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan pakar pendidikan dari National Taiwan Normal University (NTNU) Prof Chun-Yen Chang dalam Kuliah Tamu Internasional bertajuk Teacher Resiliency in the Digital Age di Rayz Hotel UMM, Minggu (5/4/2026).
“Ketika Anda mencoba untuk menyerahkan (outsource) otak Anda kepada AI seperti ChatGPT, Anda tidak lagi berpikir. Penggunaan teknologi jangka panjang tanpa disertai pemikiran kritis pada akhirnya akan merusak kapasitas pemikiran mendalam Anda,” tegas Prof Chang.
Menurutnya, teknologi secanggih apa pun tidak akan pernah bisa menggantikan interaksi emosional di ruang kelas.
Di sela-sela paparannya, Prof Chang juga memberikan apresiasi tinggi kepada ekosistem akademik Kampus Putih. Ia menilai UMM memiliki kapasitas mumpuni untuk menjalin kolaborasi riset berskala global.
“UMM akan menjadi mitra strategis yang sangat baik. Ke depan, tim kami di Taiwan sangat antusias mengumpulkan data bersama peneliti UMM, guna membandingkan perspektif mahasiswa calon guru di Taiwan dan Indonesia,” ungkapnya.
Menyambung pentingnya ketahanan mental di tengah pusaran teknologi, Wakil Rektor IV UMM Muhammad Salis Yuniardi MPsi PhD memberikan pandangan dari sisi psikologis. Mewakili Rektor UMM, Salis menegaskan filosofi pendidikan bahwa pendidik adalah penjaga nilai kemanusiaan, di mana teknologi murni hanyalah alat pendukung.
Salis menganalogikan peran guru dengan seorang dokter. “Saat memilih dokter, pasien pasti mencari dokter yang enak diajak bicara, terlepas dari deretan gelar akademisnya. Sama halnya dengan guru di sekolah, siswa akan selalu mengingat dan menyerap pelajaran dari guru yang membuat mereka merasa nyaman,” paparnya.
Menghadapi era ketidakpastian (uncertainty) yang bergerak sangat cepat, Salis merekomendasikan pendekatan going inside deeper atau penguatan karakter dari dalam diri. Ia menolak pesimisme yang menganggap era saat ini lebih berat bagi para guru.
“Setiap era memiliki perjuangannya masing-masing. Untuk mendidik siswa agar mampu bertahan di era disrupsi, metode terbaik adalah keteladanan. Guru itu sendiri yang pertama kali harus memiliki openness to experience (keterbukaan terhadap pengalaman baru) dan growth mindset. Tidak mungkin anak didik bisa percaya diri kalau gurunya sendiri tidak mencontohkan hal tersebut,” pungkas Salis.
Sinergi gagasan dari kedua pakar, internasional dan nasional, menegaskan satu hal: Secanggih apa pun disrupsi teknologi di masa depan, daya kritis, keteladanan, dan empati seorang guru tetaplah detak jantung utama pendidikan.
(Faqih/AS)