January 14, 2026, oleh

qudeta.co, Malang — Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar refleksi awal tahun dengan mengusung tema “Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan yang berlangsung di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar ini menghadirkan sejumlah akademisi serta pemangku kebijakan, termasuk Wali Kota Batu sebagai keynote speaker.
Forum refleksi tersebut bertujuan meninjau capaian pemerintah sekaligus merumuskan langkah strategis untuk mempercepat transformasi menuju Indonesia Emas 2045. Urgensi transformasi ini mencakup berbagai sektor, mulai dari ekonomi hingga pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Acara dibuka dengan sambutan Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D. Ia menekankan pentingnya peran akademisi dalam memberikan rekomendasi kebijakan berbasis riset bagi pembangunan daerah maupun nasional.
“Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi suatu visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak, terutama dalam membangun SDM unggul,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gonda menjelaskan bahwa kegiatan refleksi awal tahun ini merupakan bagian dari komitmen PSIB UMM dalam mendukung terwujudnya generasi emas 2045.
“Dalam kesempatan ini PSIB mengadakan refleksi awal tahun agar kita dapat menawarkan inovasi-inovasi di awal, biasanya kegiatan refleksi semacam ini diadakan di akhir tahun. Akan tetapi PSIB UMM mengadakan refleksi di awal tahun sebagai aspek untuk melihat hal-hal yang diperbaiki untuk mewujudkan generasi emas tahun 2045 kelak,” katanya.
Wali Kota Batu, Nurochman, S.H., M.H., yang hadir sebagai keynote speaker, menegaskan bahwa keterlibatan pemerintah daerah menjadi kunci dalam mencapai Indonesia Emas 2045. Ia menilai, transformasi harus berangkat dari nilai-nilai lokal yang selaras dengan visi nasional dan global.
“Kami memiliki beberapa program yang dikenal dengan SAE Ning Mbatu yaitu program yang melihat keunggulan yang dimiliki oleh Kota Batu, seperti pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan smart city untuk mendukung rencana Pembangunan jangka Panjang,” katanya.
Dalam konteks pembangunan SDM unggul, Nurochman menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Batu telah menyiapkan sejumlah program strategis.
“Dalam menjawab tantangan kedepan, Pemerintah Kota Batu juga fokus membangun SDM yang unggul, seperti penguatan akses dan kualitas pendidikan, lebih spesifik pemerintah Kota Batu membuat program 1.000 sarjana. Pada tahun 2025, Pemerintah Kota Batu telah memberi beasiswa kepada 273 mahasiswa,” ujarnya.
Sementara itu, pemateri lain, Luthfi J. Kurniawan, memaparkan pentingnya transformasi kepemimpinan di era masyarakat madani. Ia menilai bahwa pencapaian Indonesia Emas 2045 menuntut fokus serius pada pembangunan SDM dan ekonomi berkelanjutan.
“Untuk mewujudkan Indonesia emas 2045 saat ini, Indonesia harus mampu menciptakan generasi yang unggul, pemerataan Pembangunan, ekonomi berkelanjutan hingga tata kelola pemerintahan yang baik,” tuturnya.
Luthfi juga mengingatkan bahwa tanpa persiapan yang matang, bonus demografi justru dapat berubah menjadi ancaman.
“Jika Pendidikan, Kesehatan tidak diurus dengan baik, maka ini akan menjadi ancaman bagi Pembangunan Indonesia emas 2045. Saat ini, pemerintah memiliki tantangan untuk meningkatkan produktivitas SDM, reformasi struktural dan membangun tata kelola pemerintahan yang baik, demi mencapai Indonesia emas 2045,” imbuhnya.
Pandangan serupa disampaikan Muhammad Mirdasy, S.IP. Dia menilai awal tahun sebagai momentum strategis untuk melakukan refleksi dan reposisi arah pembangunan bangsa.
“Awal tahun merupakan momentum bagi kita untuk melakukan refleksi dan reposisi strategis bangsa, dimana saat ini Indonesia sedang menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks,” katanya.
Mirdasy juga menekankan pentingnya kajian Islam multidisipliner dalam merespons tantangan zaman.
“Tantangan zaman saat ini cukup kompleks, maka hadirnya kajian Islam multidisipliner menjadi salah satu aspek untuk menjawab tantangan zaman, dimana Islam berkemajuan menjadi landasan etis dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.
Sebagai pemateri terakhir, Abdus Salam, pakar sosiologi politik UMM, memaparkan berbagai persoalan struktural yang masih dihadapi Indonesia, khususnya kemiskinan.
“Ada beberapa aspek kemiskinan struktural yang bisa kita temui, seperti kemiskinan agrarian, hal ini mencakup petani yang sudah tidak lagi memiliki lahan atau lahan kecil yang hasilnya hanya cukup untuk bertahan hidup,” katanya.
Dia menambahkan bahwa kemiskinan struktural juga terjadi pada sektor ketenagakerjaan dan wilayah.
“Kemiskinan struktural juga terjadi pada aspek pekerja, seperti buruh yang tidak dibekali pelatihan atau pekerjaan yang layak karena struktural industri yang marginal. Selain itu, Indonesia juga dihadapkan dengan kemiskinan urban akibat penggusuran pemukiman kumuh hingga ketergantungan sektor informal dan struktur industri yang marginal. Kemiskinan regional juga terjadi karena isolasi terhadap daerah terpencil tanpa adanya akses yang memadai,” ucapnya.
Moderator acara, Diki Wahyudi, S.Sos., M.IP., menilai bahwa seluruh pemaparan narasumber bermuara pada dua isu utama, yakni pembangunan SDM dan tata kelola pemerintahan yang baik. Pada sesi penutup, ia menyimpulkan bahwa percepatan transformasi menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan sinergi lintas sektor.
“Kolaborasi adalah kunci. Tidak ada satu pihak yang bisa bekerja sendiri,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, PSIB UMM berharap lahir rekomendasi konkret dan langkah tindak lanjut yang dapat diimplementasikan oleh berbagai pihak, guna mendukung terwujudnya Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing global pada 2045. (*/muz)