March 11, 2026, oleh Humas Universitas

Muhammad Zair Baitil Atiq, mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menjalani ibadah Ramadan di Kota Braga, Portugal. (Dok pribadi/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Menjalani ibadah puasa Ramadan di negeri orang tentu menghadirkan pengalaman berbeda. Jauh dari keluarga, suasana yang tidak seramai di Indonesia, hingga kebiasaan baru dalam menjalani ibadah menjadi tantangan tersendiri. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Muhammad Zair Baitil Atiq untuk tetap produktif menjalani aktivitas selama berpuasa di Portugal.

Zair, sapaan akrabnya, merupakan mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022 yang saat ini mengikuti program pertukaran pelajar Erasmus di Universitas Minho, Kota Braga, Portugal. Selama menjalani program tersebut, ia merasakan langsung bagaimana atmosfer Ramadan di negara dengan populasi muslim yang sangat kecil.

Menurut Zair, Ramadan di Portugal memiliki suasana yang jauh berbeda dibandingkan di Indonesia. Jika di tanah air masyarakat menyambut Ramadan dengan penuh antusias, di Portugal ia merasakan suasana yang lebih tenang karena umat Islam hanya sekitar satu persen dari total populasi.

“Di Indonesia orang-orang sangat excited menyambut Ramadan. Kalau di sini rasanya seperti kita saja yang merayakan,” ujarnya Ahad (8/3/2026).

Meski begitu, ia tetap berusaha menikmati setiap momen Ramadan di perantauan. Tahun ini juga menjadi pengalaman pertamanya menjalani bulan suci tanpa keluarga sekaligus merayakan Idulfitri di luar negeri.

Dari segi durasi berpuasa, di Portugal relatif lebih singkat dibandingkan di Indonesia. Zair menyebutkan waktu puasa berlangsung sekitar 12 jam. Informasi terkait waktu sahur, imsak, hingga berbuka puasa pun mudah diakses melalui Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Portugal maupun komunitas muslim setempat yang menyediakan jadwal ibadah Ramadan melalui situs resmi mereka.

Menariknya, pengalaman Ramadan di Portugal juga memperlihatkan tingginya sikap saling menghargai antar pemeluk agama. Zair mengungkapkan bahwa teman-temannya di kampus sangat menghormati ibadah yang sedang ia jalani. Bahkan, mereka memahami beberapa batasan yang harus ia jaga sebagai seorang muslim.

“Teman-teman di kelas sangat respect. Mereka tahu saya sedang puasa, bahkan mereka juga tahu saya tidak bisa makan babi atau minum alkohol. Jadi kalau mengajak hangout, mereka memilih tempat yang sesuai,” jelasnya.

Mahasiswa asal Kalimantan itu juga mengaku memiliki keahlian baru sejak berpuasa di negeri orang, yakni memasak. Ia lebih sering memasak sendiri untuk memastikan kehalalan makanan yang dikonsumsinya. Bahkan, ia membawa beberapa bumbu khas Indonesia dari tanah air.

Namun dalam beberapa situasi, Zair juga berbuka puasa di restoran. Ia mengaku memiliki restoran favorit, yakni restoran Turki yang tidak jauh dari kampusnya. Selain menyediakan menu halal seperti kebab, restoran tersebut juga memberikan takjil gratis bagi umat muslim yang berbuka puasa.

Bagi Zair, menjalani Ramadan di luar negeri menjadi pengalaman berharga yang memberinya banyak pelajaran tentang toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Ia pun berpesan kepada mahasiswa yang menjalani program serupa untuk tetap menikmati setiap proses yang dijalani.

(Faqih/AS)