December 29, 2025, oleh Humas Universitas

Foto: (Adit Humas)

*Milad ke-113 Muhammadiyah, PP Muhammadiyah Anugerahi UMM Sebagai Kampus Islami*

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya di kancah pendidikan tinggi nasional. Bertepatan dengan gelaran Milad Muhammadiyah ke-113 dan Refleksi Akhir Tahun yang berlangsung di Masjid AR Fachruddin pada Sabtu, 27 Desember 2025, UMM resmi meluncurkan identitas baru sebagai Kampus Islami. Langkah besar ini diambil setelah UMM sukses menduduki peringkat pertama sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) terbaik se-Indonesia versi Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

Pencapaian ini berdasarkan Indikator penilaian Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mencakup dimensi yang komprehensif, diawali dari komitmen institusional dan kebijakan strategis yang menempatkan AIK sebagai standar mutu utama, serta integrasi kurikulum yang secara efektif menyatukan sains dan nilai Islam. Penilaian ini juga menyoroti kualitas pembinaan SDM yang sistematis dan atmosfer budaya kampus yang kondusif bagi penerapan etika Islami dan literasi Al-Qur’an. Selain itu, aspek krusial lainnya meliputi internalisasi nilai ideologis dalam aktivitas kemahasiswaan, tingginya produktivitas riset keilmuan Islam berkemajuan, serta dukungan sistem monitoring dan evaluasi kinerja AIK yang terstruktur dan berkelanjutan untuk memastikan seluruh elemen berjalan secara organik dan berintegritas.

Kegembiraan bertambah saat UMM menerima penghargaan Cabang Ranting Award. Piagam penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi atas dedikasi UMM sebagai PTMA yang paling peduli terhadap pengembangan cabang, ranting, dan kemakmuran masjid. Sinergi antara kampus dan organisasi inilah yang membuat UMM memiliki fondasi yang kuat di tengah masyarakat.

Hadir sebagai pemateri utama, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) PP Muhammadiyah, K.H. Jamaluddin Ahmad, S.Psi., memaparkan refleksi mendalam mengenai rahasia di balik kokohnya Muhammadiyah hingga usia 113 tahun. Menurutnya, ada tiga pilar utama yang membuat persyarikatan ini tetap berdiri tegak yaitu keikhlasan para penggeraknya, kemandirian amal usaha, dan ketaatan pada sistem organisasi yang rapi.

“Muhammadiyah bisa bertahan melampaui satu abad karena ia tidak bergantung pada figur individu, melainkan pada kekuatan sistem dan keikhlasan kolektif. UMM telah menunjukkannya, bahwa kampus harus hadir dan berperan aktif di tengah masyarakat. Keberhasilan meraih peringkat satu PTMA harus berbanding lurus dengan kebermanfaatan kita bagi ranting-ranting Muhammadiyah yang menjadi ujung tombak dakwah,” ujar Jamaluddin.

Beliau juga mengingatkan bahwa identitas Kampus Islami yang baru saja diluncurkan harus tercermin dalam perilaku setiap individu, mulai dari mahasiswa hingga pimpinan. Islam yang dibawa UMM adalah Islam berkemajuan yang solutif bagi persoalan bangsa. Ia menekankan bahwa keberlanjutan Muhammadiyah juga sangat ditentukan oleh kemampuan amal usahanya dalam merespons kebutuhan zaman tanpa meninggalkan jati diri aslinya.

“Melalui UMM Kampus Islami, kita diajak mengembalikan fungsi masjid seperti zaman KH Ahmad Dahlan. Masjid tidak boleh berhenti pada fungsi ibadah ritual semata, tapi harus menjadi pusat gagasan, laboratorium sosial, hingga pemberdayaan ekonomi yang dirasakan langsung oleh seluruh masyarakat,” jelasnya.

Di sisi lain, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., MM., CA., turut memberikan pandangannya terkait arah kebijakan kampus ke depan. Menurutnya, stabilitas dan prestasi yang diraih hari ini merupakan buah dari kerja keras kolektif seluruh elemen universitas yang selalu mengedepankan nilai-nilai kejujuran dan profesionalisme manajemen.

“Prestasi ini adalah kado indah di akhir tahun. Namun, refleksi hari ini mengingatkan kita bahwa mempertahankan posisi sebagai yang terbaik jauh lebih sulit, sehingga dukungan finansial dan manajemen yang bersih akan terus kami arahkan untuk penguatan dakwah di tingkat cabang dan ranting,” tutupnya.(ali/faq)

Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman