January 16, 2016, oleh Humas Universitas

Rektor UMM saat melayani permintaan foto bersama dari mahasiswa selepas acara, Jumat (15/1).

DALAM Silaturahim antara rektor dan fungsionaris lembaga intra, unit kegiatan mahasiswa (UKM), serta Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Jumat (15/1) Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Muhadjir Effendy MAP menyebut mahasiswa saat ini lebih baik dibandingkan mahasiswa saat ia baru menjabat sebagai Pembantu Rektor (PR) III, 33 tahun yang lalu.

      Dulu, kata rektor, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sedikit jumlahnya tapi nakal. Setiap ujian akhir, lanjutnya, mahasiswa selalu demo minta ditunda pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). “Sampai-sampai, ada mahasiswa UMM dulu tidak bayar sampai selesai kuliah. Tapi ya tidak banyak, paling hanya satu atau dua orang saja,” kenang Muhadjir.

      Karena terbatasnya mahasiswa dan Sumber Daya Manusia (SDM) di UMM, beberapa mahasiswa bahkan waktu itu juga merangkap sebagai karyawan UMM. “Biarpun saya dulu PR III, tapi kadang-kadang saya juga ngrangkap menjadi supir,” ceritanya disambut tawa mahasiswa.

      Selama bernostalgia dihadapan sekitar 250 fungsionaris mahasiswa, rektor mengucapkan maafnya karena sangat jarang dekat dengan mahasiswa. “Saya sengaja, supaya PR III lebih deket dengan mahasiswa. Kalo saya datang terus gimana PR III, itu namanya tidak memberi kesempatan. Itulah pemimpin. Saya juga dulu fungsionaris mahasiswa seperti anda,” katanya.

      Dalam belajar menjadi pemimpin, Muhadjir bercerita bahwa semasa menjadi mahasiswa ia merangkap di beberapa organisasi. Baginya, menjadi mahasiswa harus pandai mengatur waktu. Jangan sampai ada waktu yang terbuang sia-sia. “Menurut saya, semakin kita multiplayer, kekuatan kita makin berlimpah. Pandai-pandai saja me-manage energi. Saya tidak suka mahasiswa boros waktu, tidak investasi masa depan,” tegasnya.

      Namun, lanjutnya, kesehatan juga harus dijaga, jika tidak nanti penyakitnya panen. “Apa artinya Anda pinter tapi di hari tua tidak bisa digunakan, malah sakit-sakitan. Makanya olahraga bagi aktivis itu mutlak,” tandas pria yang juga menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah ini.

      Muhadjir juga memberikan beberapa petuah kepada para fungsionaris yang memadati ruang Theater UMM Dome, salah satunya mengenai pengkaderan. Ia bahkan punya cara sendiri yang dibagikan kepada mahasiswa. “Dalam hal pengkaderan saya itu pakai teori anak Indian belajar renang, dicemplungi saja nanti ketemu sendiri caranya. Kalau terlalu banyak minta nasehat nanti malah tidak jalan-jalan. Orang yang suka minta saran itu follower,” jelas rektor.

      Untuk itu, Muhadjir berpesan kepada calon-calon pemimpin bangsa ini untuk menemukan model kepemimpinannya sendiri. “Pemimpin itu harus memanfaatkan style, karakter, dan potensi masing-masing. Tunjukkan Anda beda. Optimalkan dengan gaya itu. Kalo ada yang mulai meniru Anda, berarti Anda mulai jadi role model,” ujarnya.

      Sebelum mengakhiri ceritanya, rektor berpesan agar siapapun nantinya yang terpilih menjadi Rektor UMM menggantikan Muhadjir, mahasiswa dapat menerimanya dengan baik dan didukung penuh. “Karena pilihan tersebut berasal dari bawah dan sudah sesuai dengan tata aturan. Prosesnya memang panjang karena mendengar masukan dari berbagai pihak, tapi hasilnya semoga itu yang terbaik buat UMM,” ucap Muhadjir. (zul/han)