January 16, 2016, oleh
SILATURRAHIM Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan fungsionaris lembaga intra, unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) berlangsung hangat. Selain bercerita tentang dinamika mahasiswa UMM dalam rentang tiga dekade terakhir, Rektor UMM Prof Dr Muhadjir Effendy MAP juga memaparkan tentang perjalanan UMM hingga menjadi kampus swasta yang disegani.
“Ini saya silaturrahim sekaligus pamitan, karena saya sebagai rektor UMM tinggal menghitung hari, menunggu SK (Surat Keputusan) PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah. Tapi saya masih akan tetap di sini mendampingi secara informal,” kata rektor pada acara silaturrahim, Jumat malam (15/1) di theater UMM Dome.
Muhadjir menjelaskan, dulu tak ada yang bisa dikenal di UMM selain tradisi demonstrasi dan berkelahi. “Dulu saya sempat bingung apa yang bisa dipamerkan. Akhirnya saya coba ngangkat sepakbola. Pemain-pemain Persema (Persatuan Sepakbola Malang) saya tarik kesini, gratis SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan),” kata salah satu ketua PP Muhammadiyah ini.
Sewaktu menjabat Pembantu Rektor III pada 1986, Muhadjir berusaha membangun rasa bangga mahasiswa melalui sepakbola. Karena kiprahnya, UMM sangat aktif dalam kompetisi Baladhika Jaya Cup memperebutkan Piala Korem Malang. “Kalau ada pertandingan, kita libur. Stadion penuh dengan mahasiswa UMM, Rektor juga ikut nonton,” kenangnya.
Bahkan, sebut Muhadjir, UMM sampai menang berturut-turut pada kejuaraan tersebut. “Pialanya masih kita pegang sampai sekarang. Kita bahkan pernah menjuarai Piala Presiden mengalahkan Untag (Universitas 17 Agustus 1945) Surabaya.”
Karena itu, melihat perkembangan UMM yang sepesat ini, Muhadjir meminta agar mahasiswa bangga menjadi bagian dari UMM. “Anda harus bangga, karena UMM memang membanggakan,” kata guru besar Universitas Negeri Malang ini.
Bagi Muhadjir, UMM bisa besar karena mampu me-manage keanekaragaman. “UMM ini besar karena majemuk. UMM telah menciptakan miniatur masyarakat berkemajemukan. Karena itu, saya senang kalau dinamika mahasiswa itu tidak diwarnai satu organisasi, nanti kita tidak berkembang kalau begitu.”
Saat ini, tambahnya, UMM telah menjadi social enterprise. Karenanya, ia berharap suatu saat share dana dari mahasiswa tidak sampai 75 persen, sehingga sekitar 25 persen biaya ditanggung dari unit bisnis kampus. “Sekarang ini masih di bawah 10 persen, kalau kampus seperti Harvard itu sekarang sudah 50 persen. Tapi itu wajar, Harvard sudah merintis itu sejak 500 tahun yg lalu,” ungkap Rektor.
Jika terus dikembangkan, UMM diyakini bisa menjadi perguruan tinggi terdepan, mengalahkan kampus-kampus negeri. Menariknya, Muhadjir menambahkan, fenomena keunggulan kampus swasta sudah terjadi di Amerika. Di negara tersebut, kampus swasta seperti Harvard University Stanford University, dan Yale University lebih bergengsi daripada kampus negeri.
“Di Amerika itu, kalau kuliah di kampus negeri itu malu. Itulah mengapa anda harus bangga kuliah di sini,” ucap Muhadjir di hadapan lebih dari 250 aktivis mahasiswa UMM. (han)