January 24, 2026, oleh Humas Universitas

Jembatan Suhat, lokasi di kota Malang yang sering jadi tempat untuk mengakhiri hidup diri (Foto: Dani Alifian/beritajatim.com)

Malang (beritajatim.com) – Percobaan bunuh diri yang dilakukan seorang mahasiswi berinisial TA (25) di Jembatan Soekarno-Hatta, Senin (19/1/2026) dini hari, menambah daftar mahasiswa yang hendak melakukan upaya penghilangan nyawa di Kota Malang. Peristiwa ini bukan sekadar statistik kriminalitas, melainkan sinyal bahaya yang terus berulang, menyingkap sisi krisis kesehatan mental yang menghantui kota pendidikan ini.

TA (25) ditemukan terempas di dasar Sungai Brantas dengan kedalaman sekitar 12 meter di kawasan Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru. Meski menderita patah tulang tangan kanan, mahasiswi asal Jakarta Selatan itu ditemukan dalam kondisi masih bernapas dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang.

Kepala Polsek Lowokwaru Komisaris Polisi (Kompol) Anang Tri Hananta mengonfirmasi peristiwa tersebut. Berdasarkan keterangan saksi pengemudi ojek daring, korban terlihat mondar-mandir gelisah di sekitar jembatan pada pukul 00.30 WIB sebelum akhirnya melompat.

“Saksi melihat ada seseorang terjatuh dari atas jembatan, kemudian langsung melapor ke polisi dan relawan. Petugas dan tim medis membawa korban ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Anang, Selasa (20/1/2026).

Motif di balik aksi nekat ini terungkap dari pesan terakhir yang dikirimkan TA kepada adiknya beberapa jam sebelum kejadian. Korban meminta maaf dan merasa telah merepotkan keluarga karena skripsinya yang tak kunjung usai.

Jembatan Soekarno-Hatta (Suhat) dan Jembatan Tunggulmas di Kota Malang seolah menjadi titik gelap bagi mahasiswa yang mengalami kebuntuan hidup. Sebulan sebelum kejadian TA, tepatnya akhir November 2025, NFR (25) ditemukan tewas di lokasi yang sama.

Jauh sebelumnya, pada Juli 2024, mahasiswa berinisial AHM (19) juga mencoba mengakhiri hidup di pagi hari yang ramai, meski beruntung nyawanya selamat.

Pola serupa terjadi di Jembatan Tunggulmas, sekitar 4 kilometer ke arah barat. Pada April 2025, BGS (20) asal Jakarta Timur tewas, disusul satu bulan kemudian oleh seorang perempuan muda berinisial A (20).

Kompol Anang Tri Hananta memetakan sejumlah motif dominan dari rentetan kasus tersebut. “Ada beberapa motif yang melatarbelakangi, antara lain kuliah yang tidak kunjung rampung dan terancam drop out, gagal ujian, masalah asmara, konflik dengan orang tua, hingga jeratan pinjaman daring (pinjol),” ungkapnya.

Sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari, menyoroti fenomena ini sebagai dampak dari tekanan struktural yang dihadapi Generasi Z (kelahiran 1997–2012). Menurutnya, beban akademis dengan standardisasi internasional tidak hanya menekan dosen, tetapi juga mahasiswa yang memiliki kemampuan beragam.

Situasi diperparah oleh ekspektasi keluarga yang tinggi. Biaya kuliah yang besar sering kali dikonversikan menjadi tuntutan nilai yang harus sempurna, tanpa melihat proses atau pemanfaatan ilmu itu sendiri.

“Tuntutan dari keluarga ini menimbulkan ketakutan pada si anak jika nilainya jelek. Akhirnya mereka mulai berbohong demi menutupi nilainya,” kata Luluk.

Ia menambahkan, faktor kesepian menjadi pemicu krusial bagi mahasiswa rantau. Banyak orang tua yang melepaskan pengawasan karena menganggap anaknya sudah dewasa, bahkan jarang berkomunikasi. Luluk menekankan pentingnya kampus menyeimbangkan pencapaian akademis dengan nilai kemanusiaan.

“Dukungan emosional keluarga tetap diperlukan. Misalnya, saling berbagi kabar setiap hari. Ini menjadi support system yang menenangkan, karena banyak dari mereka merasa kesepian dan tidak punya tempat menyalurkan unek-unek,” tuturnya.

Dari kacamata psikologi, tindakan bunuh diri tidak pernah muncul secara tiba-tiba. Ketua Program Studi Magister Psikologi UIN Malang, Dr. Novia Solichah, menjelaskan bahwa keinginan mengakhiri hidup adalah puncak dari akumulasi pengalaman psikologis negatif dan depresi.

“Kalau ada keinginan mengakhiri hidup, itu salah satu simptom depresi. Secara fisik individu bisa terlihat sehat, tapi yang sakit itu psikisnya,” jelas Novia.

Ia menguraikan bahwa kerentanan mental sering kali terbentuk dari masa kecil, seperti perundungan (bullying), pelabelan negatif, atau diremehkan oleh keluarga maupun lingkungan. Situasi ini disebut sebagai conditioning event, di mana individu akhirnya memercayai label negatif tersebut, menarik diri, dan tidak tahu cara membangun relasi sosial yang sehat.

Fenomena ini sejalan dengan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporannya bertajuk World Mental Health Today (2025) yang secara spesifik menyoroti bahwa bunuh diri telah menjadi penyebab kematian terbesar kedua pada penduduk usia 15–29 tahun secara global.

Laporan tersebut menegaskan bahwa kerentanan ini tidak mengenal batas wilayah. Tekanan psikologis pada rentang usia produktif—masa di mana seseorang biasanya menempuh pendidikan tinggi atau memulai karier—telah menjadi epidemi senyap.

Kasus-kasus di Malang, di mana korbannya rata-rata berusia 19 hingga 25 tahun, adalah manifestasi nyata dari statistik global tersebut. Data WHO juga menyebutkan, dari setiap satu kasus kematian akibat bunuh diri, terdapat setidaknya 20 upaya percobaan bunuh diri lainnya yang mungkin tidak terlaporkan.

Merespons insiden yang terus berulang, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menegaskan perubahan strategi penanganan. Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tidak akan lagi berfokus hanya pada infrastruktur fisik seperti menambah tinggi pagar jembatan, melainkan menyasar akar masalah kesehatan mental.

“Pagar itu sebenarnya sudah ada dan sudah kami lakukan. Tapi yang ingin kami dorong sekarang adalah pendekatan lain, karena yang harus diselesaikan adalah akarnya. Kalau hanya fisik tanpa menyentuh akarnya, kecenderungan seperti ini tidak akan selesai,” tegas Wahyu saat ditemui di Balai Kota Malang, Senin (19/1/2026).

Wahyu berencana membawa isu ini ke meja diskusi strategis bersama para pimpinan perguruan tinggi melalui Forum Rektor. Tujuannya adalah merumuskan pola pendampingan yang efektif dan sistematis bagi mahasiswa.

Pemkot Malang juga telah menjalin komunikasi dengan lembaga psikologi untuk merancang kolaborasi penanganan bagi kelompok rentan. “Saya akan minta Forum Rektor menjadikan ini sebagai salah satu agenda penting. Kita evaluasi bersama, bagaimana pendekatan yang paling tepat,” pungkasnya.

Disclaimer: Informasi dalam tulisan ini tidak bertujuan untuk menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa. Jika Anda mengalami gejala depresi dengan kecenderungan ingin mencoba bunuh diri, segera konsultasikan masalah Anda ke penyedia layanan kesehatan mental, seperti psikiater, psikolog, atau klinik kesehatan mental terdekat. (dan/kun)