June 10, 2026, oleh

Merespons tantangan era digital dan kecerdasan buatan (AI), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Training of Trainers (TOT) Penerapan Pembelajaran Transformatif. Diikuti oleh 32 dosen perwakilan fakultas dan unit kerja, agenda ini berlangsung secara bauran pada 6–9 Juni 2026 di Ruang Sidang Senat UMM guna mencetak trainer yang mampu menggerakkan perubahan praktik pembelajaran di lingkungan kampus.
Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menegaskan bahwa dosen di era modern tidak lagi sekadar menjadi penyampai materi, melainkan bertindak sebagai agen perubahan. Ia menyebutkan bahwa pendidik dituntut untuk membantu mahasiswa membangun cara berpikir kritis, reflektif, dan berorientasi pada pemecahan masalah yang nyata.
“Di era digital, informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah. Tantangan dosen saat ini bukan lagi sekadar menyampaikan pengetahuan, tetapi bagaimana membimbing mahasiswa untuk mengolah informasi, melakukan refleksi kritis, membangun perspektif baru, dan menghasilkan tindakan yang berdampak,” ujarnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Fasilitator Nasional Pembelajaran Transformatif, Prof. Dr. Mohammad Syaifuddin, MM., menjelaskan bahwa pendekatan ini akan mendorong perubahan perspektif melalui pengalaman belajar. Menurutnya, pembelajaran di kelas harus melampaui paradigma transfer pengetahuan menuju transformasi pemahaman mahasiswa terhadap dirinya dan tantangan di masyarakat.
“Pembelajaran yang baik bukan hanya membuat mahasiswa mengetahui sesuatu, tetapi membantu mereka melihat sesuatu secara berbeda. Ketika mahasiswa mulai mempertanyakan asumsi yang selama ini diyakini, melihat persoalan dari berbagai perspektif, dan kemudian mengambil tindakan berdasarkan refleksi kritis, di situlah transformasi pembelajaran terjadi,” jelasnya.
Selama pelatihan, peserta tidak hanya dibekali strategi dari tahap perencanaan hingga asesmen, tetapi juga didorong untuk meninjau ulang praktik mengajar mereka selama ini. Salah satu peserta mengungkapkan bahwa pelatihan ini mengguncang cara pandangnya, di mana kesuksesan belajar seharusnya tidak lagi diukur sebatas dari pemerolehan nilai akademik semata.
“Selama ini saya menganggap pembelajaran berhasil ketika mahasiswa memahami materi dan memperoleh nilai yang baik. Namun dalam pelatihan ini saya disadarkan bahwa pembelajaran seharusnya membantu mahasiswa mengalami perubahan cara berpikir, membangun kesadaran baru, dan mampu memaknai pengalaman yang mereka hadapi,” ungkapnya.
Peserta lainnya turut menyoroti urgensi efektivitas desain pembelajaran yang selama ini diterapkan di perguruan tinggi. Ia terdorong untuk mengevaluasi secara mendalam sejauh mana proses belajar-mengajar di kelas benar-benar memberikan dampak nyata bagi pembentukan karakter mahasiswa.
“Pelatihan ini membuat saya bertanya pada diri sendiri, apakah mahasiswa saya hanya memperoleh pengetahuan atau benar-benar mengalami transformasi cara berpikir? Pertanyaan itu terus muncul dan mendorong saya untuk mendesain ulang pembelajaran agar lebih bermakna,” tuturnya.
Ke depannya, inisiatif UMM dalam mencetak trainer pembelajaran transformatif ini menjadi wujud nyata komitmen kampus untuk terus menghadirkan inovasi pendidikan abad ke-21. Transformasi yang berakar dari perubahan cara berpikir dosen ini diharapkan dapat menular secara luas, sehingga UMM konsisten melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga tangguh menjadi agen perubahan yang solutif bagi bangsa dan kemanusiaan.(*faq)
Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman