April 28, 2026, oleh Humas Universitas

Ruang Gagasan UMM Kupas Tuntas Konflik AS-Iran, Lebih dari 100 Peserta Ikuti Diskusi Kritis!Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), untuk mengikuti forum Ruang Gagasan yang mengupas dinamika geopolitik global. Fokus utama diskusi adalah konflik Amerika Serikat (AS) versus Iran serta implikasinya bagi Indonesia, Kamis (23/4/2026), (Foto:Istimewa)

Malang, (afederasi.com) – Lebih dari 100 peserta memenuhi RBC A. Malik Fadjar Institute, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), untuk mengikuti forum Ruang Gagasan yang mengupas dinamika geopolitik global. Fokus utama diskusi adalah konflik Amerika Serikat (AS) versus Iran serta implikasinya bagi Indonesia,Kamis (23/4/2026),

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM bekerja sama dengan Rumah Baca Cerdas (RBC) Abdul Malik Fadjar dan Program Studi Hubungan Internasional UMM.

Hadir sebagai pembicara, yakni Prof. Hikmahanto Juwana (Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia), Prof. Gonda Yumitro (Guru Besar Hubungan Internasional UMM), dan Airlangga Pribadi. Ketiganya menyoroti bahwa konflik AS-Iran bukan sekadar persoalan bilateral, melainkan memiliki dampak luas terhadap stabilitas global, termasuk bagi Indonesia.

Guru Besar Hukum Internasional, Prof. Hikmahanto Juwana, menilai posisi Indonesia saat ini berada dalam situasi yang tidak sederhana. Sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas aktif, Indonesia harus berjalan di atas tali tipis di tengah tekanan geopolitik.

“Sebagai negara nonblok, Indonesia berada dalam posisi dilematis. Namun, Indonesia tetap harus memiliki sikap yang jelas, terutama dalam melihat dampak kemanusiaan dari konflik yang terjadi,” ujara di hadapan puluhan mahasiswa dan akademisi.

Sementara itu, Prof. Gonda Yumitro mengungkapkan bahwa persepsi global masih menempatkan Indonesia sebagai negara yang konsisten dengan prinsip bebas aktif.

“Sekitar 65 persen publik global melihat Indonesia konsisten dengan prinsip bebas aktif. Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran terhadap dampak ekonomi, khususnya terkait energi dan rantai pasok,” jelasnya.

Diki Wahyudi, Sekretaris Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM, menilai bahwa konflik AS-Iran tidak hanya persoalan geopolitik, tetapi juga krisis kemanusiaan yang berdampak luas terhadap kesejahteraan sosial masyarakat global.

Menurut Diki, dalam perspektif kesejahteraan sosial, eskalasi konflik tersebut harus dilihat sebagai ancaman serius terhadap keberlangsungan hidup masyarakat sipil. “Ketegangan di Teluk bisa mengganggu pasokan energi global yang pada akhirnya akan menaikkan harga minyak dunia dan membebani masyarakat kecil di Indonesia,” imbuhnya.

Di sisi lain, Airlangga Pribadi menekankan pentingnya literasi geopolitik di kalangan generasi muda. Menurutnya, diskusi kritis seperti Ruang Gagasan ini menjadi wadah strategis untuk membangun kesadaran kolektif.

“Diskusi seperti ini penting untuk membangun kesadaran bahwa konflik global harus dilihat tidak hanya dari aspek politik, tetapi juga kemanusiaan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa mahasiswa sebagai agen perubahan tidak boleh buta terhadap isu-isu global. “Apa yang terjadi di Timur Tengah, pada akhirnya akan berpengaruh ke harga BBM dan kebutuhan pokok di Malang,” ujarnya tegas.

Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa penguatan literasi menjadi kunci utama dalam menghadapi derasnya arus informasi global di era disrupsi.

“Kampus harus menjadi pusat produksi gagasan. Tanpa literasi yang kuat, kita mudah terjebak pada informasi yang tidak utuh,” ujarnya.

Ia mengapresiasi gelaran Ruang Gagasan yang dinilai mampu mendorong tradisi intelektual sekaligus meningkatkan peran generasi muda dalam merespons dinamika geopolitik dunia secara kritis dan konstruktif.

Sepanjang acara, diskusi berlangsung sangat dinamis dengan partisipasi aktif dari para peserta. Puluhan mahasiswa mengajukan pertanyaan kritis mulai dari poros geopolitik baru, kemungkinan perang terbuka, hingga posisi negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Antusiasme yang melebihi kapasitas ruangan ini menunjukkan tingginya perhatian akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum terhadap isu-isu global yang semakin kompleks. “Saya senang ada wadah seperti ini. Selama ini isu internasional terasa jauh, padahal dampaknya dekat dengan kita,” ujar salah satu peserta asal Prodi HI UMM.

Melalui forum Ruang Gagasan UMM, kampus berlambang pohon ini berhasil membuktikan bahwa diskusi geopolitik tidak harus selalu kaku dan membosankan. Dengan menghadirkan pakar lintas institusi, UMM mengokohkan posisinya sebagai salah satu pusat kajian kebangsaan dan internasional di Jawa Timur. (san)