March 3, 2026, oleh Humas Universitas

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Safari Ramadan 1447 Hijriah di Aula Kampus 2, pekan lalu. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi sivitas akademika untuk merefleksikan kembali makna ibadah di tengah gempuran ambisi dan hasrat duniawi. Dengan mengusung tema “Ramadhan Berkemajuan: Menguatkan Spiritualitas, Intelektualitas, dan Kepedulian Sosial,” acara ini menghadirkan Dr. M. Nurul Humaidi, M.Ag. sebagai pemateri utama.

​Dalam ceramahnya, Nurul menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar jeda rutin dari aktivitas makan dan minum. Lebih dari itu, Ramadan adalah instrumen koreksi diri terhadap cara manusia memaknai kekuasaan. Ia menjelaskan bahwa puasa merupakan latihan sistematis untuk menjinakkan watak dasar manusia yang cenderung rakus terhadap eksistensi dan kenikmatan dunia.

​Secara etimologis, Nurul memaparkan bahwa Ramadan berasal dari kata ar-ramadh yang berarti panas membakar. Namun, ia memberikan catatan kritis bahwa yang seharusnya terbakar dalam bulan suci ini bukan hanya dosa-dosa kecil, melainkan juga akar keserakahan manusia. Ia menarik benang merah sejarah pada kisah Nabi Adam, manusia pertama yang jatuh bukan karena lapar, melainkan karena godaan keabadian dan kekuasaan. ​
“Inti puasa adalah pengendalian diri, bukan sekadar menahan lapar dan haus. Secara hukum fikih, orang yang makan karena lupa tetap sah puasanya. Ini membuktikan bahwa esensi puasa terletak pada kesadaran kontrol diri. Siapa pun yang gagal menahan diri, baik pejabat, orang kaya, maupun rakyat biasa, pasti akan terjatuh pada kenistaan,” tegas Nurul.

​Lebih lanjut, ia membagi kualitas puasa ke dalam tiga tingkatan: jasmani, nafsani, dan ruhani. Puasa jasmani hanya berkutat pada fisik. Puasa nafsani menuntut disiplin lisan dan etika sosial, sementara puasa ruhani berorientasi pada kemurnian hubungan dengan Allah. Nurul mengingatkan bahwa jika seseorang masih gemar berdusta atau menyakiti sesama, maka rasa lapar dan dahaganya tidak memiliki nilai di sisi Tuhan.

​Di sisi lain, Nurul juga menyoroti aspek intelektualitas dalam beragama. Ia memuji langkah Muhammadiyah yang berani melakukan ijtihad melalui transformasi metode penentuan awal bulan kamariah, dari rukyat menuju hisab, hingga gagasan kalender hijriah global. Menurutnya, perubahan ini bukanlah bentuk inkonsistensi, melainkan keberanian intelektual dalam membaca realitas zaman dengan pendekatan sains.

​Safari Ramadan ini diharapkan mampu memosisikan kampus sebagai laboratorium etika. Di tempat ini, mahasiswa dan akademisi diajak untuk menyeimbangkan antara spiritualitas dan intelektualitas. Tanpa spiritualitas, intelektualitas hanya akan melahirkan kesombongan akademik yang mengabaikan kepedulian sosial.

Sebaliknya, spiritualitas tanpa intelektualitas hanya akan bermuara pada ritualisme kering yang tidak memberikan dampak nyata bagi kemajuan bangsa. (imm/lim)