September 30, 2025, oleh Humas Universitas

(Pidato Rektor pada Wisuda Ke-119 #4 Hall Dome September 2025)

 

Peristiwa unjuk rasa yang baru saja kita alami sebagai sebuah bangsa, menunjukkan semakin pentingnya menumbuhkan kesadaran akan makna strategis, dari kemampuan untuk memiliki empati dalam diri setiap insan Indonesia.

Berempati memungkinkan seseorang secara sadar melihat kondisi di sekelilingnya. Hal ini membuatnya merasakan keadaan, perasaan, dan pengalaman orang lain. Terutama di tengah berbagai persoalan, tantangan, serta kesenjangan ekonomi dan sosial yang sedang dihadapi bangsa.

Transformasi sumber daya insani Indonesia, sangat dibutuhkan untuk dapat menggapai dan mencapai Indonesia Emas tahun 2045. Ini dapat dicapai dengan proses pendidikan yang akan membawa generasi kita pada tantangan besar, yakni penciptaan lapangan kerja produktif di tengah perekonomian global – yang rentan terhadap kelesuan dan sangat volatile. Proses transformasi besar ini membutuhkan lulusan pendidikan tinggi yang memiliki empati kuat.

Menumbuhkan empati merupakan proses berkelanjutan yang harus dipupuk dan dilatih secara terus-menerus, Agar seseorang memiliki kemampuan mengelola emosi diri – dalam dimensi makna yang luas dan mendalam, perlu proses untuk membentuk kapabilitas sosial dan emosionalnya. Berikutnya, dibutuhkan praktik-praktik yang tepat untuk melihat keberhasilan dalam membangun empati. Seperti sikap welas asih, menjalin persahabatan, serta budaya literasi yang terus dikembangkan di UMM.

Program semacam pendidikan dan pengembangan kepribadian, serta kepemimpinan atau P2KK, Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, serta praktik-praktik pergaulan kampus lain yang menjadi proses interaksional antar sivitas akademika, diharapkan menjadi modal tumbuhnya empati tersebut.

Apabila empati didukung oleh kemampuan adaptabilitas yang tinggi – sebagai sebuah kapasitas yang tidak hanya memuat unsur bekerja cerdas atau agile, didukung dengan organisasi yang memiliki sumber daya insani melek digital atau digital dexterity, serta kemampuan melihat perubahan sebagai peluang untuk menjadi bangsa yang lebih maju, maka proses kolaborasi akan dapat dijalankan dengan baik. Dengan demikian, kita dapat menjadi bangsa yang besar, yang kemajuannya tidak lekang oleh zaman dan waktu.

Merujuk pada istilah CEO of IBM, Ginni Rometty, ia menyebut new collar workers bukanlah seseorang yang berkerah putih maupun biru, melainkan pembelajar yang tangguh, adaptif, kuat di lapangan, dan siap tumbuh bersama teknologi. Mereka inilah yang akan menjadi andalan bangsa Indonesia dalam menjalani proses transformasi penting menuju Indonesia Emas.

Melalui wisuda hari ini, saya ingin mengingatkan kita semua untuk terus tanpa kenal lelah melahirkan alumni-alumni yang membanggakan – dengan kekhasan atau keunikan yang memiliki kemampuan empati dan adaptabilitas yang tinggi. Tentu saja, di luar itu yang terpenting adalah ketakwaan kepada Allah SWT sebagai ciri khas alumni Universitas Muhammadiyah Malang – yang harus senantiasa kita jaga.

Demikian sambutan saya pada hari ini,

Saya ucapkan selamat kepada para wisudawan dan wisudawati beserta segenap orang tua yang turut berbahagia.