April 30, 2025, oleh

(Sambutan Rektor pada Halal Bihalal ORMAWA April 2025)
Pendidikan karakter, pembentukan kepribadian dan sejenisnya mungkin dipandang biasa saja. Tetapi kedalaman dari sebuah proses pendidikan, salah satunya bisa di bentuk melalui cita-cita dan kemauan teman-teman mahasiswa untuk ikut berpartispasi dalam berbagai organisasi kemahasiswaan. Karena sebetulnya, ini adalah salah satu pintu yang paling baik untuk mencapai level pendidikan yang paling tinggi.
Alam berpikir peradaban tinggi sebagai konsekuensi dari pendidikan yang berhasil itu, biasanya tidak lagi elitis, tidak lagi eksklusif tetapi inklusif. Artinya, saat individu tersebut menjalankan kesehariannya, harus tetap berjalan pada fitrah kemanusiaan. Misalnya saat tengah diamanahi menjadi jenderal, ia tidak lupa bahwa suatu saat ada masa dia sudah tidak menjabat lagi.
Hal ini akan membawa ia pada suatu titik dimana saat diberi peran, maka ia akan menjalankan peran itu sebaik-baiknya, tanpa mengindahkan golongan. Jadi, Muhammadiyah itu semua tindakannya, semata-mata untuk kemajuan dan kepentingan masyarakat. Pendidikan yang dijalankan sebagai jalan upaya mewujudkan khairul ummah, seperti yang ada di Az-Zumar : 18,
الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدٰىهُمُ اللّٰهُ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ (“Yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.”)
Ayat ini menekankan pentingnya mendengarkan, memahami, dan mengamalkan hal yang paling baik Yang maksudnya: “Jadilah orang-orang paling baik dari konsep aslinya”
Siapasih orang yang paling baik itu? Orang yang bisa sharing atau berbagi, bisa overmind atau berpikiran terbuka, punya sikap mendengar perkataan orang lain, sehingga memudahkan kita menerima sinyal atau petunjuk dari sekitar. Orang-orang yang mendapat petunjuk itulah oleh Allah tergolong kepada orang-orang yang ulul albab dan salah satu tempat untuk mempertajam orang-orang ini, adalah diskusi pendidikan. Karena itu Muhammadiyah itu berkhidmat betul di pendidikan, karena membahas apa saja, berdiskusi apa saja tidak akan banyak berdampak, sepanjang bangsa ini masih ada yang tertinggal.
Jika kita berbicara tentang Indonesia, sebagai sebuah bangsa, saat ini kita berada pada posisi negara berpendapatan menengah. Artinya, kita hanya perlu sedikit lagi untuk mencapai tingkat pendapatan per-kapita antara 12.000-18.000 USD per tahun. Namun, indikator sosial seperti ini sifatnya dinamis, bisa meningkat, tetapi juga bisa menurun. Tugas kita semua adalah menjaga agar kondisi tersebut tetap stabil, dan tidak terus-menerus terjebak dalam rentang pendapatan tersebut tanpa mengalami peningkatan. Fenomena middle income trap yang berkepanjangan ini berkaitan erat dengan aspek geoekonomi, geopolitik, serta geostrategi nasional, khususnya dalam hal bagaimana kita mengelola negara, atau yang dikenal dengan istilah statecraft.
Poinnya yang kedua, yang unik di Indonesia itu sudah hampir 10 tahun lebih inflansinya terkendali, Meski banyak orang mengatakan harga barang-barang mahal, namun itu bukan karena inflansinya yang tinggi, tapi daya belinya yang turun. Jadi jika 250 juta penduduk, apakah semua berada di kisaran penghasilan yang sama? Tentu tidak.
Dari sisi ketenagakerjaan, mayoritas tenaga kerja di Indonesia masih merupakan lulusan SD, disusul oleh lulusan SMP, dan sebagian besar bekerja di sektor informal. Hal ini menunjukkan bahwa struktur ekonomi Indonesia masih didominasi oleh sektor informal, sedangkan ukuran-ukuran ekonomi nasional yang digunakan bersifat formal.
Karena itu, ketika kita berbicara mengenai PHK, perlu dipahami bahwa yang mengalami PHK adalah mereka yang bekerja di sektor formal—yakni di industri atau institusi yang memiliki struktur kerja jelas. Sementara mereka yang bekerja di sektor informal jarang mengalami PHK karena bekerja secara mandiri. Oleh sebab itu, yang perlu menjadi perhatian utama adalah bagaimana memperkuat dan memperluas sektor formal agar mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja dengan sistem upah yang layak.
Pada tahun 1998 hingga awal 2000-an, banyak orang meyakini bahwa kemajuan teknologi yang pesat akan mengancam lapangan kerja manusia. Namun, setelah terjadinya perang dagang global, pandangan itu mulai berubah. Kini justru disadari bahwa sunset industry, yakni industri yang dianggap menurun atau sudah tidak diminati karena hanya berbasis teknologi menengah, perlu dihidupkan kembali sebagai katup penyelamat untuk menyerap lebih banyak tenaga kerja.
Upaya ini penting agar Indonesia tidak terus terjebak pada posisi negara berpendapatan menengah dan bisa naik menjadi negara berpendapatan menengah ke atas. Namun, kenyataannya, gelombang PHK justru menyebabkan berkurangnya kelompok kelas menengah, yang berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat. Ketika daya beli menurun, pertumbuhan ekonomi juga ikut terhambat, sebab fondasi utama pertumbuhan ekonomi Indonesia bertumpu pada konsumsi domestik. Untuknya, seluruh pemimpin di Indonesia, saat menyampikan pidato, harus berisi tentang hal-hal yang membuat masyarakat optimis.
Maka kesimpulan sederhananya dalam fenomena trade world itu yang sangat penting adalah bagaimana negara itu memperbaiki diri, melakukan konsolidasi. Konsolidasi internal dilakukan supaya kita menjadi negara yang kuat, tidak “berkelahi” sendiri di dalam negeri. Dengan konsolidasi, kitab isa melihat lebih dalam, bahwa sesungguhnya persoalan-persoalan yang kita hadapi sederhana.
Tema “Ekosistem Bangun Ekonomi Global” yang diangkat teman-teman ini cukup menarik, karena sekarang semua lintas disiplin ilmu. Sosial harus bisa bicara teknologi, yang eksakta juga harus paham teknologi, maka kajian multi disiplin ini harus ditingkatkan. Kita telah kehilangan hampir 20 tahun di Indonesia tentang hal ini, karena semua hal tersebut dikotak-kotakkan secara parsial. Ini sangat disayangkan, karena menghambat lahirnya break true terobosan-terobosan baru dibidang Iptek.
Mudah-mudahan pertemuan kita memberi energi dan gairah baru, juga teriring doa agar kita semua tidak terjangkit dalam lelap dalam dan tidur di tengah hirup pikuk. Kurang lebihnya mohon maaf.
Wabillahi taufik wal hidayah, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuhu