April 22, 2026, oleh Humas Universitas

Para wisudawan mengikuti prosesi Wisuda ke-121 UMM yang bertepatan dengan momentum Hari Kartini. (Humas UMM/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Peringatan Hari Kartini pada 21 April 2026 menjadi konteks penting dalam pelaksanaan Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Momentum ini tidak hanya menandai kelulusan akademik, tetapi juga mengingatkan kembali pada gagasan emansipasi serta peran strategis perempuan dalam pembangunan bangsa.

Di tengah meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi, pertanyaan mengenai kontribusi nyata mereka menjadi semakin relevan. Kegiatan yang digelar di Hall Dome UMM ini pun menghadirkan refleksi bahwa gelar akademik harus berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial yang konkret.

Topik tentang menumbuhkan perempuan pemimpin untuk Indonesia yang makin sejahtera menjadi sorotan dalam orasi Ira Puspadewi PhD. Ia menegaskan bahwa kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas institusi dan sumber daya manusia, bukan semata faktor geografis.

Ira juga menyoroti masih rendahnya keterlibatan perempuan pada level kepemimpinan strategis, padahal berbagai riset menunjukkan bahwa kehadiran perempuan mampu meningkatkan kualitas keputusan dan kinerja organisasi. Kondisi ini dinilai sebagai tantangan serius yang perlu segera direspons, terutama oleh kalangan terdidik yang memiliki akses dan kapasitas untuk mendorong perubahan.

“Jika kita ingin Indonesia maju, maka kualitas institusi harus diperbaiki, dan di dalamnya peran perempuan menjadi sangat penting. Wisudawan dan wisudawati hari ini adalah bagian dari kelompok kecil masyarakat terdidik yang memiliki tanggung jawab besar untuk membawa perubahan. Perempuan harus berani meningkatkan kepercayaan diri terhadap kemampuannya, tidak terjebak dalam batasan sosial, serta memiliki role model yang kuat agar mampu tampil sebagai pemimpin,” ujarnya.

Lebih lanjut, perempuan yang merupakan Direktur ASDP periode 2017–2024 itu menegaskan bahwa tantangan terbesar tidak hanya terletak pada struktur sosial, tetapi juga pada persepsi diri perempuan yang kerap meragukan kemampuannya sendiri. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan lingkungan, termasuk keluarga dan institusi pendidikan, dalam membentuk keberanian perempuan untuk tampil sebagai pemimpin.

Menurutnya, keseimbangan antara iman dan kebebasan menjadi fondasi penting bagi setiap individu untuk bertahan dan berkembang di tengah tekanan sosial maupun profesional.

Sementara itu, Sekretaris Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Dr Mukarromah SKM MKes, dalam sambutannya mengingatkan bahwa wisuda bukanlah titik akhir, melainkan pintu awal untuk berkontribusi di tengah masyarakat.

Ia menekankan pentingnya integrasi antara ilmu, keterampilan, dan nilai kejujuran sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. Selain itu, ia juga menyoroti peran perempuan sebagai pilar penting dalam menjaga nilai-nilai keagamaan sekaligus mendorong kemajuan bangsa.

“Ilmu yang kalian peroleh harus dihidupkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi capaian akademik semata. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, terutama di era digital, menjadi kunci agar tidak tertinggal. Di sisi lain, adab dan etika harus tetap menjadi landasan utama dalam setiap langkah, karena keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian, tetapi juga dari cara mencapainya,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Rektor UMM, Prof Dr Nazaruddin Malik MSi. Ia menegaskan bahwa kampus berkomitmen menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat.

Berbagai program pengembangan, termasuk Center of Excellence (CoE), dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis dan adaptif terhadap perubahan global. Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja sekaligus mendorong lahirnya inovator dan problem solver di masyarakat.

“Universitas Muhammadiyah Malang akan terus kami proyeksikan untuk melahirkan lulusan berkualitas karena prosesnya kami jamin, sekaligus membentuk insan dengan karakter mulia. Kami ingin melahirkan alumni yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, adaptif terhadap perubahan, serta mampu menjadi problem solver di tengah masyarakat,” ujarnya.

Di balik prosesi wisuda yang berlangsung khidmat, pesan yang mengemuka tidak berhenti pada capaian akademik semata. Para lulusan dihadapkan pada realitas bahwa tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah menyandang gelar, ketika kemampuan, integritas, dan keberanian diuji di tengah masyarakat.

Dengan demikian, wisuda tidak hanya menjadi penutup perjalanan pendidikan, tetapi juga titik awal untuk membuktikan peran nyata dalam mendorong kemajuan bangsa.