June 11, 2026, oleh

KLIKMU.CO – Transformasi digital di sektor pendidikan kerap menjadi pedang bermata dua bagi sistem pendidikan inklusif. Di satu sisi, teknologi membuka akses pembelajaran yang lebih luas, namun di sisi lain pemerataan akses belum sepenuhnya dirasakan oleh semua kalangan.
Merespons tantangan tersebut, Program Studi Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Seminar Nasional bertajuk Inovasi Literasi Akademik bagi Pendidikan Inklusif di Era Digital: Membangun Sekolah Ramah, Adaptif, dan Berkemajuan. Kegiatan ini berlangsung di Aula Lantai 9 Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 UMM pada Sabtu (23/5/2026) dengan menghadirkan akademisi, praktisi, dan pemerhati pendidikan.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Dr Fajar Riza Ul Haq MA yang diwakili Ir Moch Abduh MS Ed PhD menyampaikan bahwa transformasi sekolah menuju ekosistem inklusif menjadi salah satu agenda prioritas pemerintah. Menurutnya, pemerintah tengah menyiapkan berbagai kebijakan strategis untuk memperkuat sistem pendidikan inklusif yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Pemerintah saat ini terus memastikan agar arah kebijakan pendidikan mampu menjembatani kebutuhan peserta didik yang beragam melalui pemanfaatan inovasi teknologi secara optimal di sekolah,” ujar Abduh.
Senada dengan itu, Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD menegaskan bahwa pendidikan inklusif merupakan fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang setara. Institusi pendidikan, kata dia, harus menjadi ruang aman yang bebas dari diskriminasi.
“Kita sebagai akademisi harus berupaya keras menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, yakni memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh peserta didik tanpa memandang latar belakang sosial maupun kondisi fisik,” ungkapnya mewakili Rektor UMM.
Berbagai strategi mewujudkan ekosistem belajar yang inklusif turut dibahas oleh para narasumber, di antaranya Assoc Prof Ni’matuzahroh SPsi MSi PhD dan Prof Dr Khozin MSi. Keduanya mengulas pentingnya layanan digital terpadu serta penguatan kebijakan pendidikan inklusif di Jawa Timur.
Ni’matuzahroh yang juga Ketua Program Studi Magister Psikologi UMM menjelaskan bahwa literasi akademik dan layanan inklusi berbasis digital perlu diterapkan secara luas dalam ekosistem pendidikan Muhammadiyah. Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital sangat penting untuk mendukung layanan pendidikan yang lebih efektif dan mudah diakses.
Ia menjelaskan bahwa sistem layanan digital berbasis ekosistem terpadu memungkinkan layanan pendidikan berjalan lebih efektif, terintegrasi, dan mudah diakses oleh seluruh warga sekolah.
“Sistem layanan digital berbasis ekosistem terpadu ini mengulas pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung layanan pendidikan yang lebih efektif, terintegrasi, dan mudah diakses oleh seluruh warga sekolah,” paparnya.
Dalam seminar tersebut, Ni’matuzahroh juga menekankan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif tidak hanya ditentukan oleh sekolah, tetapi juga membutuhkan kolaborasi erat antara guru dan orang tua. Sinergi keduanya menjadi kunci dalam mendukung perkembangan peserta didik yang memiliki kebutuhan dan karakteristik beragam.
Sebagai bentuk komitmen nyata, kegiatan ini dirangkaikan dengan penandatanganan kerja sama antara Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Timur dengan Direktorat Sains dan Teknologi UMM. Selain itu, dilakukan pula penandatanganan kesepakatan antara Magister Psikologi UMM dan Penerbit Erlangga Cabang Malang.
Kepala Cabang Erlangga Malang Dodi Wahyudi menyoroti pentingnya sinergi antara dunia pendidikan dan penerbitan untuk memperkuat literasi akademik di lingkungan sekolah.
Rangkaian acara ditutup dengan Focus Group Discussion (FGD) SILLA MUTU yang bertujuan memetakan berbagai tantangan pendidikan inklusif di lapangan. Melalui forum tersebut, para peserta merumuskan berbagai langkah kolaboratif untuk mewujudkan pendidikan yang lebih ramah, adaptif, dan berkemajuan.
Kegiatan ini menjadi bukti komitmen berbagai pihak dalam menciptakan ekosistem pendidikan inklusif yang mampu menjangkau seluruh peserta didik tanpa sekat, sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, sekolah, penerbit, dan masyarakat di tengah pesatnya perkembangan era digital.
(Faqih/AS)