June 6, 2026, oleh Humas Universitas

JATUH BANGUN: Alumnus UMM Galang berfoto di depan tempat usahanya Tera Thai Spa, Kota Gdynia, polandia, beberapa waktu lalu.

KOTA MALANG, RADAR MALANG – JARUM jam menunjukkan pukul 18.00 di Kota Gdynia, Polandia. Sore itu, satu per satu pelanggan mulai berdatangan ke Tera Thai Salon Day Spa. Sebagian besar sudah melakukan reservasi sejak beberapa hari sebelumnya.

Di tengah ramainya aktivitas, Galang tak hanya memantau operasional usaha yang dirintisnya. Sesekali dia turut membantu resepsionis melayani pelanggan yang datang.

Pemandangan itu jauh berbeda dibanding lima tahun lalu saat pertama kali menginjakkan kaki di Polandia. Kala itu, pria alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut datang sebagai perantau yang belum memiliki pekerjaan tetap. Kini, dia justru menjadi pemilik usaha spa dengan omzet mencapai Rp 500 juta hingga Rp 600 juta per bulan.

Perjalanan itu dimulai pada Mei 2021, ketika pandemi Covid-19 masih membatasi mobilitas masyarakat di berbagai negara. Saat banyak orang memilih bertahan di rumah, Galang justru nekat merantau ke Eropa.

”Keinginan ke luar negeri sebenarnya sejak 2020. Karena pembatasan di Indonesia lebih ketat, sehingga 2021 saya paksa pergi,” ujarnya.

Polandia bukanlah tujuan utama. Impian awalnya adalah Australia. Namun, empat kali pengajuan visa negara tersebut selalu berujung penolakan. Kesempatan juga belum berpihak ketika mencoba jalur ke Selandia Baru dan Kanada.

Hingga akhirnya seorang teman memberinya informasi bahwa Polandia membuka peluang bagi pekerja asing. Kesempatan itu langsung dicoba. Dalam pengajuan pertama, visanya disetujui.

Setelah menjalani tes Covid-19 dan karantina setibanya di Polandia, Galang mulai mencari pekerjaan. Lulusan prodi Agribisnis itu sebenarnya berharap bekerja sesuai latar belakang pendidikannya di bidang peternakan. Namun kenyataan berkata lain.

Agensi yang menyalurkannya justru menempatkan dia sebagai petugas kebersihan gudang. Setiap hari, pekerjaannya membersihkan area produksi, mengangkut kardus, hingga membereskan limbah sisa kegiatan industri. Pekerjaan fisik itu menjadi pintu masuk yang umum bagi pekerja migran karena tidak membutuhkan kemampuan bahasa Polandia yang tinggi.

Namun, pekerjaan tersebut hanya bertahan dua bulan akibat kecelakaan kerja yang di alaminya. Setelah itu, Galang beralih menjadi penjual kebab.