April 30, 2026, oleh Humas Universitas

DUNIA INTERNASIONAL: Para Mahasiswa Teknik Mesin UMM, saat menjalani program magang di divisi produksi Daihatsu Kyushu, Jepang

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Industri otomotif Jepang adalah benteng kedisiplinan. Standarnya setinggi langit. Ketelitian adalah harga mati. Namun, tembok besar itu berhasil ditembus oleh sepuluh anak muda dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

​Nicholas Saputra adalah salah satunya. Mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2022 ini bukan sekadar datang untuk berkunjung. Ia adalah bagian dari program magang bergengsi di Daihatsu Kyushu, Jepang. Sejak 6 Agustus 2025, Nicholas dan sembilan rekannya resmi menjadi penggerak di balik layar raksasa otomotif dunia.

Lolosnya Nicholas bukan sebuah kebetulan. Jalurnya resmi melalui kampus. Namun, seleksinya “berdarah-darah”. Mereka harus melewati tes fisik yang menguras tenaga, psikotes yang tajam, hingga evaluasi akademik yang ketat. Bahasa Jepang dasar pun wajib dikuasai.

​”Ini bukan sekadar kerja. Ini soal membuktikan bahwa mahasiswa kita punya mentalitas global,” ujar salah satu koordinator program magang UMM.

​Di Jepang, Nicholas terjun langsung ke divisi krusial. Ada yang di bagian welding (pengelasan) yang butuh presisi milimeter. Ada yang di divisi painting untuk memastikan bodi mobil anti-karat. Hingga divisi assembly, tempat ribuan komponen dirangkai menjadi unit utuh.

​Ritme kerjanya cepat. Sangat cepat. Nicholas mengaku sempat mengalami culture shock. ​“Kalau kerjanya ya disiplin, tepat waktu, terus tidak boleh sembarangan. Benar-benar harus profesional,” ungkap Nicholas dengan tegas.

​Jam kerja panjang adalah makanan sehari-hari. Lembur pun menjadi kewajiban rutin. Awalnya melelahkan, namun sistem kompensasi yang adil menjadi penawar letih. Upah lembur yang tinggi di Jepang memberikan semangat ekstra bagi para mahasiswa.

​Kendala bahasa tetap ada. Namun bagi Nicholas, hambatan komunikasi justru menjadi sekolah mental yang paling berharga. Ia tidak melihatnya sebagai beban, melainkan tantangan untuk naik kelas.

​“Kerja di luar negeri itu menarik. Buat mencari skill baru dan pengalaman baru. Saya ingin tahu rasanya bekerja langsung dengan standar orang Jepang,” tuturnya.

​Keberhasilan sepuluh mahasiswa ini menjadi bukti nyata kualitas Kampus Putih. UMM sukses menjembatani ruang kelas dengan realitas industri internasional. Kisah Nicholas adalah pesan kuat: mahasiswa daerah bisa menaklukkan panggung dunia asalkan punya keberanian dan persiapan yang matang.

​Kini, di bawah bising mesin pabrik Kyushu, Nicholas dan kawan-kawan sedang memahat masa depan. Mereka tidak hanya membawa pulang ilmu, tapi juga harga diri bangsa. (imm/udi)