April 27, 2026, oleh

Pakar HI UMM Prof Gonda menyampaikan pandangannya terkait posisi Indonesia di tengah konflik AS-Iran. (Humas UMM/Klikmu.co)
KLIKMU.CO – Di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus mengguncang stabilitas ekonomi serta keamanan global, posisi strategis Indonesia kembali diuji. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan terus bertahan dengan sikap normatif “cari aman”, atau mulai berani melangkah sebagai aktor utama dan juru damai dunia?
Guru Besar Hubungan Internasional UMM sekaligus Kepala PSIB UMM, Gonda Yumitro, menilai pemerintah Indonesia masih cenderung berlindung di balik payung hukum internasional. Sikap yang tidak secara eksplisit mengutuk Amerika Serikat dan Israel dinilai sebagai upaya menjaga peluang menjadi mediator.
Namun, menurutnya, kekuatan global tidak hanya ditentukan oleh norma, melainkan juga oleh ketahanan sumber daya.
Dia juga menyoroti ketertinggalan Indonesia dibanding sejumlah negara Eropa dan ASEAN, terutama dalam hal kemandirian dari kekuatan eksternal.
Dampak konflik juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak dunia akibat konflik akan berimbas pada ekosistem ekonomi domestik.
“Dominasi negara-negara besar dalam rantai produksi global mempersempit ruang gerak negara berkembang. Sikap hati-hati Indonesia memang realistis, tetapi belum cukup untuk menjadikan kita aktor strategis,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor UMM Nazruddin Malik menyoroti dinamika ini melalui perspektif Islam Berkemajuan. Ia menekankan pentingnya pendekatan moderat dan adaptif dalam merespons isu global, termasuk energi, konflik, dan relasi antarnegara.
“Perubahan lanskap ekonomi global menempatkan Indonesia pada posisi yang belum kuat. Sebagai negara dengan pasar besar, potensi kita belum diimbangi kekuatan produksi yang memadai,” paparnya.
Ia mendorong penguatan industri domestik serta peningkatan kapasitas negosiasi internasional agar Indonesia tidak terus bersikap reaktif.
Forum ini menegaskan bahwa tantangan terbesar Indonesia bukan hanya memahami konflik global, tetapi juga menentukan posisi yang tegas. Tanpa keberanian memperkuat implementasi kebijakan, Indonesia berisiko tetap menjadi penonton dalam dinamika geopolitik yang semakin kompetitif.
(Faqih/AS)