April 29, 2026, oleh Humas Universitas

Ahmad Ali Akbar, mahasiswa disabilitas Prodi Psikologi UMM (dok. UMM)

KOMPAS.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkomitmen untuk terus menjunjung tinggi kesetaraan dan inklusivitas di lingkungan akademik. Hal tersebut dibuktikan secara nyata melalui keberhasilan seorang penyandang disabilitas pengguna kursi roda meraih gelar sarjana pada wisuda ke-121 UMM. UMM sukses mengantarkan Akhmad Ali Akbar, mahasiswa Program Studi Psikologi, menyelesaikan masa studinya dengan prestasi yang gemilang.

Kiprah di lingkungan kampus
Pria yang akrab disapa Akbar itu tercatat aktif terlibat dalam organisasi mahasiswa. Ia pernah menjabat sebagai eksekutif muda di Kementerian Luar Negeri Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM periode 2023–2024. Puncaknya, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Pelaksana Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Fakultas Psikologi 2024.

Di bawah kepemimpinannya, acara tersebut berhasil meraih juara tiga sebagai Pesmaba terbaik tingkat universitas. Tak cukup berkiprah di internal kampus, Akbar melebarkan sayapnya pada kegiatan sosial kemasyarakatan dengan bergabung di komunitas Turun Tangan Malang. Jabatan pertama yang ia emban yakni staf Hubungan Masyarakat (Humas) periode 2022–2023. Berkat hasil kerjanya yang cemerlang, ia didapuk menjadi Ketua Umum di periode berikutnya.

UMM sediakan fasilitas kampus yang ramah disabilitas
Sejak hari pertama menjadi mahasiswa UMM, Akbar merasakan betul komitmen UMM dalam menyediakan fasilitas kampus yang ramah disabilitas. Akses khusus jalur kursi roda di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 serta kemudahan mobilitas di banyak fasilitas praktikum memudahkannya untuk leluasa bergerak.

“Sedari awal hingga kelulusan, UMM benar-benar membantu dan mendukung sehingga saya tidak merasa berat menjalani setiap proses perkuliahan meski dengan keterbatasan fisik,” ucapnya, dilansir dari laman UMM, Selasa (28/4/2026).

Ia meyakini bahwa sarana prasarana yang inklusif tersebut memudahkannya menjalani aktivitas perkuliahan selama empat tahun terakhir.

Tidak ada perlakuan khusus baginya di ranah akademik. Namun, Akbar menegaskan bahwa kemudahan yang ia rasakan murni sebatas akses fisik. Ia tetap harus memenuhi standar nilai dan melewati ujian yang sama ketatnya dengan mahasiswa lain. Prinsip kesetaraan tersebut memantik semangatnya untuk bersaing sehat dan membuktikan kualitas diri secara objektif.

“UMM sudah siap menjadi kampus inklusif dan pastinya akan selalu mendukung teman-teman disabilitas untuk menempuh perkuliahan dengan lancar, bagaimanapun caranya,” tegasnya.

Menutup perbincangan, Akbar menitipkan pesan pada seluruh mahasiswa yang sedang berjuang, baik yang memiliki keterbatasan fisik atau tidak, untuk percaya bahwa setiap doa dan kerja keras akan membuahkan hasil yang setimpal.

“Jangan pernah berhenti berharap, berdoa, dan bermimpi karena sejatinya mimpi-mimpi itu akan terwujud di masa yang akan datang,” pungkasnya.