March 6, 2026, oleh Humas Universitas

Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., saat diwawancarai beritajatim.com (Foto: Dani Alifian)

Malang (beritajatim.com) – Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., dipercaya untuk mengemban amanah sebagai rektor di empat perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM). Dalam kesempatan wawancara sosok ekonom senior menjelaskan strategi out of the box dalam mengemban amanah di PTM yang tersebar di berbagai penjuru nusantara.

Menjalankan empat amanah sekaligus tentu mustahil dilakukan sendirian tanpa sistem yang kuat. Prof. Nazaruddin menjelaskan bahwa ia tetap berbasis di Malang, namun menempatkan representasi kuat di setiap kampus dampingan.

“Format manajemennya adalah berbagi sumber daya. Di setiap universitas, saya menempatkan satu atau dua dosen UMM di sana. Mereka menjabat sebagai Sekretaris Pelaksana Rektor,” jelas Prof Nazaruddin pada beritajatim.com, Kamis (5/3/2026).

Para dosen pilihan dari UMM ini berfungsi sebagai koordinator pelaksana di lapangan. “Ibaratnya, di UMM ini dapurnya. Menu-menu kebijakan dan standar mutunya digodok di sini, lalu diimplementasikan di sana oleh para sekretaris pelaksana tersebut,” tambahnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, Prof. Nazaruddin menjabat di empat kampus berbeda dengan rincian: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk periode 2024–2028. Universitas Muhammadiyah Manado pada periode 2025–2029. Universitas Muhammadiyah Kupang untuk periode 2025–2027. Kemudian Universitas Muhammadiyah Indonesia (UMI) Bekasi untuk periode 2025–2029.

Situasi ini tergolong tidak lazim dalam birokrasi akademik nasional. Biasanya, satu figur hanya fokus memimpin satu institusi. Namun, kepiawaian Prof. Nazaruddin dalam mengelola manajemen pendidikan membuat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah memberikan mandat khusus untuk melakukan akselerasi mutu di tiga kampus lainnya.

Memimpin kampus di lokasi yang berbeda secara geografis dan kultural mendatangkan tantangan tersendiri. Karakter masyarakat di Bekasi yang urban dan dekat pusat pemerintahan tentu berbeda jauh dengan kultur di Nusa Tenggara Timur (NTT) atau Sulawesi Utara.

Selain faktor budaya, Prof. Nazaruddin menyoroti perbedaan tingkat kematangan organisasi Muhammadiyah di tiap daerah. Di Jawa Timur, struktur organisasi sudah sangat solid, yang memudahkan akselerasi universitas. Kondisi ini belum tentu sama di wilayah lain.

“Tantangan terberat adalah karakter daerah dan perkembangan organisasi Muhammadiyah setempat yang belum sebagus di Jawa Timur. Itulah yang menentukan kecepatan proses pengembangan universitas tersebut,” tuturnya.

Menariknya, Prof. Nazaruddin secara terbuka mengakui bahwa secara normatif-birokratis, memimpin empat kampus sekaligus mungkin menabrak aturan umum. Namun, dalam semangat dakwah dan kemajuan pendidikan Muhammadiyah, efisiensi menjadi prioritas utama.

“Kalau di aturan (umum) mungkin tidak boleh ya. Tapi di Muhammadiyah, yang penting adalah bagaimana kita mendorong kemajuan. Hal-hal yang sifatnya birokratis terkadang bisa kita kesampingkan demi meningkatkan kualitas perguruan tinggi secara cepat,” tegasnya.

Saat dikonfirmasi mengenai penunjukan beruntun ini, Prof. Nazaruddin mengaku bahwa mandat tersebut adalah tugas berat yang memerlukan strategi manajemen yang presisi. Ia menjelaskan bahwa alasan di balik penunjukan ini adalah upaya percepatan perkembangan kampus Muhammadiyah di daerah.

“Mungkin ini adalah bagian dari knowledge transfer. Bagaimana praktik-praktik baik (best practices) dan manajemen pendidikan yang sudah mapan di UMM bisa diterapkan di tiga tempat tersebut,” ujar Prof. Nazaruddin.

Ia menegaskan bahwa perannya bukan sekadar simbolis. Fokus utamanya adalah membawa standar kualitas UMM yang sudah dikenal sebagai salah satu kampus swasta terbaik di Indonesia ke Manado, Kupang, dan Bekasi.

Kepemimpinan lintas kampus ini juga membuka peluang emas bagi mahasiswa. Saat ini, PP Muhammadiyah tengah mendorong sistem di mana mahasiswa dari kampus-kampus tersebut bisa mengambil mata kuliah di UMM dan kreditnya diakui di kampus asal.

Tak hanya internal Muhammadiyah, Prof. Nazaruddin juga membocorkan rencana kerjasama besar dengan Universitas Indonesia (UI).

“Dalam waktu dekat, mahasiswa UMM diperbolehkan mengambil mata kuliah yang diminati di Universitas Indonesia selama satu semester, dan hasilnya akan diakui oleh UMM. Begitu pula sebaliknya,” jelasnya.

Menanggapi isu adanya sentimen negatif atau rasa iri dari internal kampus setempat, Prof. Nazaruddin menanggapinya dengan santai. “Budaya di Muhammadiyah adalah Sami’na wa Atho’na (kami mendengar dan kami taat) terhadap instruksi pimpinan pusat demi kepentingan bersama,” katanya menutup pembicaraan. (dan/but)