June 12, 2026, oleh

Mediaindonesia-MAJELIS Ekonomi dan Bisnis Pimpinan Pusat Muhammadiyah membangun pabrik cairan infus PT Suryavena Farma Indonesia dengan total investasi sekitar Rp800 miliar belum termasuk aset tanah.
Peletakan batu pertama di lokasi pabrik yang akan dibangun di Dusun Ngepeh, Desa Ngijo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (11/6).
“Total investasi sebesar Rp800 miliar di luar aset tanah. Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu pemegang saham karena pemilik lahannya. Pabrik ini melibatkan rumah sakit di lingkungan Muhammadiyah yang juga pemegang saham,” tegas Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri, Muhadjir Effendy, dalam kesempatan tersebut.
Adapun manajemen pabrik di bawah koordinasi majelis kesehatan dan majelis ekonomi bisnis. Kedepan, lanjutnya, ada beberapa majelis juga akan mengembangkan industri sesuai karakter masing-masing.
Muhadjir mengatakan PT Suryavena Farma Indonesia sudah beroperasi selama dua tahun terakhir dengan menerapkan sistem maklun. Kini, bisnis dioptimalkan sehingga dengan keberadaan pabrik dinilai jauh lebih efisien, termasuk kontrol kualitas bisa lebih ketat. Bahkan, pabrik yang memproduksi sendiri cairan infus akan menawarkan harga lebih kompetitif ketimbang produk serupa di luar Muhammadiyah.
“Ini peluangnya sangat besar, nanti kita memetakan potensi lebih luas,” katanya.
Nantinya, distribusi produk akan membentuk jaringan sendiri lebih luas dari sebelumnya bekerja sama dengan Kimia Farma.
Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan pembangunan pabrik yang memproduksi cairan infus ini karena Muhammadiyah memiliki 130 rumah sakit dan ratusan klinik. Karena itu, kebutuhan cairan infus akan terlayani dengan kekuatan sendiri tanpa perlu bergantung pada pihak lain.
Sedangkan pembangunan pabrik didasari oleh kehendak memperkuat ekonomi rakyat dan umat. Spirit itu sesuai semangat naik kelas menuju ekonomi menengah ke atas menjadi keutamaan sembari konsisten memberdayakan masyarakat.
“Muhammadiyah mengusung spirit naik kelas, spirit bangkit membangun ekonomi yang identik dengan kekuatan rakyat,” tuturnya.
Semangat membangun ekosistem ekonomi umat dan bangsa yang naik kelas itu sejalan dengan amanat Presiden Prabowo Subianto. Sebab, mewujudkan Indonesia Emas, dasarnya harus mandiri dengan syarat segala sumber daya alam dikelola secara mandiri.
“Muhammadiyah berada di jalur itu. Saya yakin bertemu dengan spirit bangsa menjadi pilar kemajuan Indonesia ke depan,” pungkasnya.