June 8, 2026, oleh

Sukses masa depan tak hanya bergantung pada deretan nilai akademik, melainkan kepiawaian membaca peluang karier dan mengelola literasi finansial. Menjawab urgensi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan PT Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Paragon menggelar kuliah umum bertajuk “Langkah Emas Generasi Emas”. Acara yang dilangsungkan di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV UMM pada Senin (8/6) ini secara tajam membedah kesiapan mahasiswa dalam menghadapi persaingan industri, termasuk urgensi manajemen keuangan strategis seperti tabungan haji hingga investasi emas.
Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menegaskan bahwa puncak bonus demografi Indonesia pada 2045 tidak akan memberikan manfaat riil jika tidak diimbangi dengan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Ia menilai tantangan pembangunan ke depan kian kompleks, sehingga perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk mencetak mahasiswa sebagai agen perubahan yang berintegritas. Pembangunan kapasitas diri, menurutnya, mutlak dilakukan sejak di bangku perkuliahan.
“Indonesia Emas bukan sesuatu yang hadir secara otomatis. Generasi muda harus mempersiapkan diri sejak hari ini melalui pendidikan, karakter yang kuat, dan kemauan untuk terus belajar. Jika kesempatan besar itu tidak dipersiapkan dengan baik, maka bonus demografi justru bisa berubah menjadi tantangan,” tegas Juanda.
Sejalan dengan hal tersebut, Area Manager Malang PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, Waskito Vergino, S.T., MBA., M.Sc., menjabarkan bahwa sinergi antara institusi pendidikan dan sektor industri merupakan katalisator pencetak generasi tangkas. Ia menyebutkan bahwa BSI sangat membutuhkan pasokan SDM yang adaptif terhadap dinamika bisnis. Mahasiswa saat ini memegang peranan krusial sebagai pelaku utama roda perekonomian dan pembangunan nasional di masa depan.
“Indonesia Emas 2045 tidak mungkin tercapai tanpa generasi yang memiliki keterampilan, karakter, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Karena itu, kami ingin hadir bersama kampus untuk memberikan wawasan serta pengalaman yang dapat menjadi bekal mahasiswa menghadapi dunia kerja,” tuturnya.
Dari perspektif pengembangan karier, Vice President Islamic Education & Halal Solution BSI, Hikmah Rizka Maslahatin, S.Si., S.I.Kom., M.Si., mengajak mahasiswa memaksimalkan masa studi sebagai arena transformasi pribadi. Merespons disrupsi teknologi yang melesat cepat, ia mengingatkan bahwa kemampuan akademik semata tidak lagi cukup. Mahasiswa dituntut ekstra dalam membangun komunikasi dan rekam jejak diri yang solid.
“Skill dan pengetahuan itu penting, tetapi saat ini belum cukup. Mahasiswa juga harus memiliki personal branding, kemampuan berkolaborasi, serta kemauan untuk terus belajar karena perubahan terjadi sangat cepat. Dunia kerja membutuhkan individu yang siap berkembang, bukan hanya siap bekerja,” jelas Hikmah.
Pada akhirnya, keberhasilan menghadapi persaingan global tidak lagi berpusat pada seberapa kuat seseorang berkompetisi, melainkan seberapa cakap ia membangun jejaring dan berkolaborasi. Melalui agenda ini, mahasiswa UMM didorong untuk segera merumuskan langkah konkret pascakampus. Harapannya, mereka lulus tidak hanya dengan predikat akademik memuaskan, tetapi juga matang secara finansial, berkarakter tangguh, dan memiliki kepekaan sosial tinggi untuk mewujudkan visi Indonesia Emas yang sesungguhnya.(vin/faq)
Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman