May 11, 2026, oleh

Ilustrasi sapi kurban di Kota Malang pada 2026. (KOMPAS.com/ Putu Ayu Pratama Sugiyo)
MALANG, KOMPAS.com — Menjelang Idul Adha 2026, masyarakat diingatkan agar tidak memilih hewan kurban hanya berdasarkan ukuran tubuh atau harga mahal, tetapi juga memastikan kondisi kesehatannya.
Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang, Prof Dr drh Lili Zalizar, mengatakan masih banyak masyarakat menilai kualitas hewan kurban hanya dari tampilan fisik. Padahal, menurut dia, ada sejumlah indikator penting yang harus diperhatikan sebelum membeli hewan kurban, termasuk faktor kesehatan.
“Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujar Lili, Senin (11/5/2026).
Lili menjelaskan, hewan yang mengalami cacat fisik seperti pincang tidak memenuhi syarat sebagai hewan kurban sesuai ketentuan syariat.
Kasus Influenza Meningkat di Tengah Cuaca Panas, Berikut Penjelasan Ahli
Artikel Kompas.id
Selain itu, calon pembeli juga perlu memperhatikan kondisi mata hewan. Menurut dia, mata hewan yang sehat tampak jernih dan tidak memiliki selaput putih atau keruh yang menandakan adanya gangguan penglihatan.
Baca juga:
Waspada 78.000 Warga Banten Terjangkit Pneumonia, Dinkes Ingatkan Deteksi Dini Gejala Batuk
Waspadai PMK dan Antraks
Lili juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kondisi kulit hewan dan memastikan bebas dari penyakit seperti kudis atau scabies.
“Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” tambahnya.
Ia meminta masyarakat waspada terhadap penyakit menular berbahaya pada ternak seperti Penyakit Mulut dan Kuku serta Antraks.
Baca juga:
Suhu Arab Saudi Tembus 40 Derajat, CJH Jember Diminta Bawa Ini
Menurut dia, hewan yang terindikasi PMK biasanya mengeluarkan lendir berlebihan dari mulut, mengalami luka pada gusi dan lidah, serta luka kemerahan di sela kuku kaki.
Sementara itu, hewan yang terkena antraks umumnya menunjukkan gejala kejang disertai pendarahan dari hidung atau anus.
“Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegasnya.
Baca juga:
Sapi Jumbo 1 Ton Lebih Milik Peternak Sukoharjo Dibeli Prabowo untuk Kurban
Perhatikan Usia dan Kondisi Hewan
Selain kondisi fisik, masyarakat juga diminta memperhatikan nafsu makan dan kebugaran hewan. Lili mengatakan, hewan yang sehat umumnya aktif makan dan bergerak lincah.
Menurut dia, hewan berbadan gemuk lebih disarankan karena menghasilkan daging lebih banyak sehingga manfaat kurban dapat dirasakan lebih luas.
Baca juga:
Cara Mencegah Hantavirus Menurut Epidemiolog, Bisa Dimulai dari Rumah
Ia juga mengingatkan bahwa usia hewan harus memenuhi syariat, yakni minimal dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba.
Di sisi lain, Lili menyoroti pentingnya masa istirahat bagi hewan yang baru menempuh perjalanan jauh sebelum disembelih. Menurut dia, hewan yang kelelahan rentan mengalami stres yang dapat menurunkan kualitas daging.
“Kelelahan pada hewan dapat memicu sindrom DFD atau dark, firm, dry. Kondisi ini membuat tekstur daging menjadi gelap, keras, dan kering,” pungkasnya.