November 27, 2025, oleh Humas Universitas

Fida Pangesti, dosen UMM yang meraih beasiswa doktoral IASP Austria dan meneliti pembelajaran tata bahasa berbasis AI. (Dok pribadi/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Perjalanan Fida Pangesti SPd MA, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menuju studi doktoral di Austria menyimpan kisah menarik. Ia telah mengincar beasiswa IASP sejak dua tahun lalu, meski saat itu belum memenuhi salah satu syarat tahun kelulusan.

Namun rangkaian pengalaman akademik—mulai Microcredential Literacy di Western Sydney University Australia pada 2023 hingga program PKBI di UPI Bandung pada 2024—justru membuka jalur baru yang mempertemukannya dengan dua minat besarnya: pengajaran tata bahasa Indonesia dan kecerdasan buatan (AI).

Austria dipilih Fida bukan hanya karena kualitas akademiknya yang kuat, tetapi juga karena lingkungan studinya yang aman, inklusif, serta ramah bagi peneliti internasional.

“Saya sudah mengetahui beasiswa IASP sejak dua tahun lalu dan tertarik karena kualitas institusi di Austria. Ketika syarat masa kelulusan magister dihapus, saya merasa inilah waktunya mencoba. Perjalanan akademik sejak 2023 justru menjadi pintu yang mengarahkan saya sampai ke titik ini,” ujarnya, Rabu (26/11/2025).

Proses seleksi beasiswa dijalani Fida melalui tahapan yang cukup intens, mulai seleksi berkas hingga wawancara luring bersama empat pewawancara Austria dan satu pewawancara Indonesia. Wawancara berlangsung langsung ke inti penelitiannya.

“Yang paling menantang adalah mencari supervisor karena banyak yang menolak topik saya. Wawancara juga langsung masuk ke riset tanpa perkenalan, seperti seminar proposal versi kilat,” katanya.

Penelitian doktoralnya berjudul AI-Assisted Grammar Learning in Indonesian as a Foreign Language, yang berfokus pada bagaimana generative-AI dapat meningkatkan metalinguistic awareness atau kesadaran kebahasaan pemelajar BIPA. Ia menyebut tata bahasa sebagai area yang sering dianggap “menguras tenaga” baik bagi pengajar maupun pemelajar.

Dengan pendekatan mixed method, Fida akan melakukan eksperimen intervensi berbasis AI yang dilanjutkan dengan wawancara mendalam. Penyusunan desain intervensi pun menjadi tantangan tersendiri karena harus mencakup fonologi, morfologi, sintaksis, hingga semantik.

“Supervisor sangat suportif. Saya bebas memilih mata kuliah lintas jenjang dan diarahkan melakukan pilot penelitian di kelas BIPA di Vienna. Bahkan saya disarankan berkunjung dan berkolaborasi dengan ahli AI dalam pembelajaran bahasa di Nanyang Technological University Singapore,” ujarnya.

Di luar kegiatan akademik, Austria juga memberikan pengalaman budaya yang menarik. Mulai dari rutinitas Ruhetag yang membuat seluruh toko tutup pada hari Minggu, budaya ramah pejalan kaki, hingga banyaknya diskusi dan workshop lintas budaya, agama, serta disiplin ilmu. Perpustakaan menjadi tempat favoritnya karena suasananya yang tenang dan pemandangan lansia yang tetap giat belajar—hal yang menurutnya sangat menginspirasi.

“Saran saya, persiapkan portofolio sejak awal, bangun jaringan dengan calon pembimbing, dan pilih topik yang benar-benar relevan. Kesiapan dan ketekunan sering lebih berpengaruh daripada sekadar kecerdasan,” pesan Fida.

Bagi Fida, perjalanan ini bukan sekadar kisah meraih beasiswa internasional, tetapi juga ikhtiar memperkuat pengembangan BIPA berbasis teknologi. Penelitiannya menegaskan bahwa AI bukan hanya tren, melainkan instrumen strategis untuk membuat pembelajaran tata bahasa Indonesia lebih efektif, menarik, dan siap bersaing di kancah global.

(Wildan/AS)