June 9, 2026, oleh Humas Universitas

Ratusan mahasiswa UMM mengikuti kajian keislaman dalam program Kuliah Sabtu Subuh di masjid A.R. Fachruddin UMM (Tagar.co/Humas UMM)

Kita lebih sering merayakan keluasan daripada kedalaman, reaksi cepat daripada refleksi yang matang. Kita terhubung dengan banyak hal, tetapi pada saat yang sama kita mengalami kelelahan batin.

Tagar.co – Alarm berbunyi saat sebagian besar mahasiswa mungkin masih terlelap. Namun, Sabtu (6/6/2026) dini hari itu, ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru memulai aktivitas lebih awal. Mereka berkumpul sejak pukul 03.00 WIB untuk melaksanakan qiyamul lail, salat Subuh berjamaah, dan mengikuti kajian keislaman dalam program Kuliah Sabtu Subuh.

Di tengah padatnya aktivitas akademik, tuntutan organisasi, hingga tekanan untuk terus berprestasi, ruang-ruang semacam ini menjadi semakin relevan. Tidak sedikit mahasiswa yang menghadapi kelelahan mental atau burnout akibat ritme kehidupan yang serba cepat dan penuh target.

Melalui Bagian Pendidikan dan Pengajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK), UMM menghadirkan Kuliah Sabtu Subuh sebagai bagian dari praktikum mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) II. Bertempat di Masjid A.R. Fachruddin UMM, kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda akademik, tetapi juga ruang refleksi untuk mengisi kembali energi spiritual mahasiswa.

Guru Besar Fakultas Agama Islam (FAI) sekaligus Wakil Direktur I Pascasarjana UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., yang hadir sebagai pemateri mengajak mahasiswa melihat ibadah dari sudut pandang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam kajian bertajuk “Energi Positif dari Ibadah, Charger Spiritual di Tengah Kesibukan Mahasiswa”, Syamsul menggambarkan kondisi manusia modern layaknya gawai yang terus digunakan tanpa pernah diisi ulang dayanya. Menurutnya, banyak orang terus menjalani berbagai aktivitas tanpa meluangkan waktu untuk berhenti dan merefleksikan diri.

“Kita lebih sering merayakan keluasan daripada kedalaman, reaksi cepat daripada refleksi yang matang. Kita terhubung dengan banyak hal, tetapi pada saat yang sama kita mengalami kelelahan batin,” ujarnya, mengutip gagasan dalam buku The Power of Full Engagement.

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di kalangan pekerja, tetapi juga mahasiswa. Di tengah berbagai tuntutan akademik dan sosial, banyak mahasiswa berusaha memenuhi beragam target. Namun, mereka tidak menyadari bahwa kondisi mental dan spiritual juga membutuhkan perhatian.

Baca Juga:  Pembelajaran Kolaboratif Lintas Sekolah

Tiga Modal Utama Kesuksesan Sejati

Menurut Syamsul, seseorang tidak dapat mengukur kesuksesan sejati hanya dari capaian akademik atau materi. Ada tiga modal utama yang saling berkaitan dalam kehidupan manusia, yakni modal spiritual, sosial, dan material. Di antara ketiganya, modal spiritual menjadi fondasi yang memberi arah dan makna. Karena itu, umat Islam tidak seharusnya menjalankan ibadah sekadar untuk menggugurkan kewajiban.

Dalam pandangan Tarjih Muhammadiyah, umat Islam menjadikan ibadah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus media relaksasi mental di tengah berbagai tekanan kehidupan.

“Ibadah itu adalah satu konsep yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa perbuatan maupun perkataan, yang tampak maupun yang tersembunyi dalam batin,” jelasnya.

Wakil Direktur I Pascasarjana UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., menyampaikan materi dalam program Kuliah Sabtu Subuh (Tagar.co/Humas UMM)

Lebih jauh, Syamsul menyoroti pentingnya menghadirkan kesadaran penuh atau mindfulness saat beribadah. Menurutnya, tidak sedikit orang yang menjalankan ibadah secara fisik, tetapi pikirannya justru berada di tempat lain.

“Sering kali tubuh kita berada di tempat salat, tetapi pikiran kita berada di mana-mana. Padahal hakikat ibadah adalah menghadirkan seluruh diri kita di hadapan Allah,” tuturnya.

Baca Juga:  Kemegahan Kurikulum yang Belum Menyentuh Sekolah Kecil

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia tetap membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak. Bukan untuk meninggalkan berbagai aktivitas, melainkan menata kembali arah dan tujuan yang ingin dicapai.

Bagi mahasiswa, jeda semacam itu bisa menjadi bekal penting untuk menjaga keseimbangan. Sebab, keberhasilan tidak hanya dengan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi dan aktif berorganisasi, melainkan juga dengan merawat diri, menjaga ketenangan batin, dan menjadikan setiap aktivitas bernilai ibadah.

Melalui keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kematangan spiritual, UMM berharap mahasiswa mampu tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga tangguh menghadapi tantangan zaman serta memiliki karakter yang kuat. (#)

Penulis Faqih Ahmad Wafir Rahman Penyunting Terry Angria Putri Perdana