June 12, 2026, oleh

Malang (ANTARA) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat perannya dalam mewujudkan kemandirian kesehatan nasional dengan menyediakan lahan untuk pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia guna memenuhi kebutuhan medis nasional.
Dari lahan yang disiapkan UMM seluas 14 hektare di Ngijo Kecamatan karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur tersebut, sekitar tiga hektare khusus sebagai kawasan industri terpadu dan ditargetkan operasional pada tahun 2027.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir pada peletakan batu pertama pembangunan pabrik infus tersebut di Malang, Kamis, menegaskan bahwa pendirian pabrik infus ini adalah manifestasi dari ekosistem socio-religious corporation yang digagas oleh persyarikatan.
Menurut dia, inisiatif ini membuktikan bahwa organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang orientasi utamanya adalah kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi negara, bukan sekadar mencari keuntungan finansial.
“Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya.
Lebih lanjut, Haedar mengatakan bahwa agama tidak sebatas mengatur akidah dan ibadah, melainkan juga urusan muamalah dalam tata kehidupan sosial-ekonomi.
Oleh karena itu, keterlibatan di sektor industri medis ini diposisikan sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan guna menopang berbagai layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat.
Sementara itu, Wakil Rektor II UMM, Dr Ahmad Juanda menjelaskan bahwa kontribusi Kampus Putih tidak berhenti pada penyediaan lahan. Ke depannya, kawasan ini akan diintegrasikan menjadi ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang mempertemukan aktivitas industri dengan fungsi tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).
“Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional,” ujarnya.
Selain mendukung layanan kesehatan, katanya, kawasan ini juga dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri, sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan.
Dengan beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia, langkah ini diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di tanah air.
“Kolaborasi lintas sektor ini menjadikan kemandirian ekonomi, inovasi pendidikan, dan pelayanan publik yang inklusif dapat berjalan beriringan demi menghadirkan manfaat yang seluas-luasnya bagi pembangunan bangsa,” ujarnya.
Peletakan batu pertama pembangunan pabrik infus tersebut dihadiri oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM, Fauzan, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta undangan lainnya.
Pabrik yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 ini diproyeksikan menjadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan, baik bagi jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah maupun masyarakat luas.