May 12, 2026, oleh

MAKLUMAT – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat inovasi mandiri untuk memberi dampak terhadap ekosistem berkelanjutan. Salah satunya menyulap sampah sisa makanan menjadi nutrisi bagi seluruh ruang terbuka hijau kampus.
Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, menegaskan bahwa siklus mandiri ini ibarat peribahasa, ‘sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui’.
“Peribahasa ini tak lepas dari upaya kampus memangkas sampah organik ke tempat pembuangan akhir, sekaligus memperkuat komitmen terhadap kelestarian lingkungan,” kata Sandi, sapaannya.
Proses Sederhana, Manfaat Luar Biasa
Ekonomi sirkular, atau tata kelola melingkar diawali dari limbah kantin. Seluruh sisa makanan diolah menjadi pupuk organik yang saat ini permintaannya terus meningkat. Di satu sisi, pihak kampsus berusaha memenuhi pupuk organik guna mendukung kelestarian lingkungan.
Proses yang dilakukan cukup sederhana. Seluruh sampah sisa makanan yang meliputi sayur, buah, ikan, dan lainnya dari kantin dipilah kemudian dicacah berukuran 2–3 sentimeter.
Material cacahan ini dimasukkan ke tahap fermentasi, di mana sampah dicampur dengan bahan karbon seperti sekam padi dan diatur kelembapannya pada kisaran 60–70 persen.
Upaya Pangkas Sampah Organik
“Setelah difermentasi di dalam reaktor tertutup selama 7–14 hari, hasil olahan dipindahkan ke unit modular,” jelasnya.
Di sinilah proses vermikompos terjadi, di mana olahan sampah organik akan diurai dan dimakan cacing tanah jenis eisenia fetida. Selanjutnya menjadi pupuk yang kaya nutrisi.
Keberhasilan ini dibuktikan dengan memangkas volume sampah organik kampus. Pada 2025, produksi sampah organik mencapai 438 ton. Sebanyak 402,9 ton atau setara 92 persen sampah, diubah menjadi pupuk organik di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kampus III.
Parameter Keberhasilan Program
“Kuncinya ada pada implementasi program vermikompos yang menjadi jantung dari upaya pengelolaan sampah berkelanjutan kami,” lanjutnya.
Tak berhenti pada kompos. Limbah spesifik kantin seperti kulit sayur dan buah juga didaur ulang menjadi eko-enzim. Melalui program edukatif yang berjalan setiap hari di UMM Edupark, kampus sanggup memproduksi lebih dari 5 liter cairan eko-enzim per harinya.
Kesuksesan mengolah 92 persen sampah organik ini menjadi bukti bahwa operasional kampus berskala besar dapat berjalan harmonis dengan alam. Sebagai kampus inovasi mandiri yang berdampak lead, capaian ini menegaskan posisi UMM di garda terdepan dalam aksi iklim.