April 9, 2026, oleh Humas Universitas

koranmanado – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengambil langkah proaktif untuk mengatasi pandangan negatif yang kerap melekat pada aktivisme kampus, yaitu anggapan bahwa kegiatan tersebut menghambat kelulusan. Kampus berjuluk Kampus Putih ini berencana memberikan apresiasi kepada para penggerak organisasi mahasiswa melalui skema beasiswa khusus serta pengakuan sebagai mahasiswa berprestasi.

Inisiatif signifikan ini diumumkan dalam forum Dialektika Kampus Putih yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM pada Sabtu (4/4/2026). Acara yang awalnya bertujuan sebagai ajang silaturahmi pasca-Idul Fitri tersebut, berubah menjadi platform penyampaian kabar baik bagi ratusan fungsionaris organisasi mahasiswa (Ormawa) di lingkungan UMM, demikian dilansir dari Edukasi.

Wakil Rektor III UMM, Nur Subeki, menyampaikan komitmen universitas untuk mengubah paradigma mengenai peran aktivis. Menurutnya, kontribusi yang diberikan oleh mahasiswa aktif di BEM, Senat, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) merupakan aset berharga yang mendukung reputasi institusi.

“Kami sedang mematangkan mekanisme beasiswa khusus bagi mahasiswa aktivis. Kami ingin mereka tidak hanya cakap dalam berorganisasi, tetapi juga merasa didukung secara finansial dan akademis oleh kampus,” ujar Nur Subeki, seperti dikutip dari laman UMM pada Selasa (7/4/2026).

Lebih lanjut, Nur Subeki menjelaskan bahwa keaktifan mahasiswa di organisasi akan dikategorikan sebagai bentuk prestasi. Pihak universitas meyakini bahwa berkiprah di berbagai organisasi adalah pencapaian luar biasa yang patut diapresiasi.

Selain dukungan materi, UMM juga berkomitmen menyediakan fasilitas pendampingan. Kampus akan mendampingi setiap inisiatif mahasiswa, termasuk dalam Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa), mulai dari tahap perencanaan hingga implementasi di lapangan.

Respons Positif dari Mahasiswa

Kebijakan baru ini mendapatkan sambutan hangat dari Presiden Mahasiswa UMM, Wahyuddin Fahrurrijal. Ia menilai langkah ini sebagai solusi strategis atas dilema yang sering dihadapi mahasiswa dalam menyeimbangkan antara biaya kuliah, tuntutan akademik, dan tanggung jawab di organisasi.

“Ini adalah langkah strategis. Selama satu periode ini, kami di BEM berusaha menjalankan program yang benar-benar menyentuh kebutuhan mahasiswa,” tutur Wahyuddin. Dia optimistis bahwa adanya beasiswa bagi pengurus ormawa akan meningkatkan minat mahasiswa dalam berorganisasi, mengingat pengalaman berorganisasi membentuk keterampilan lunak (soft skill) yang tidak diperoleh di kelas.

Senada dengan Wahyuddin, Siti Aminah, perwakilan UKM yang turut hadir, mengaku lega dengan adanya kebijakan ini. Ia merasa peran aktivis yang selama ini cenderung ‘bekerja di balik layar’ akhirnya mendapatkan apresiasi yang setara.

“Selama ini kami sering merasa ‘pejuang di balik layar’ yang kurang terlihat. Dengan adanya kategori mahasiswa berprestasi bagi aktivis, kami merasa dihargai. Ini membuktikan UMM melihat prestasi secara luas, tidak hanya soal angka di KHS (Kartu Hasil Studi),” ungkap Siti.

Dengan adanya beasiswa dan pengakuan resmi ini, para aktivis UMM diharapkan tidak hanya berhasil sebagai sarjana secara akademik. Mereka juga diharapkan mampu tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang memiliki kemandirian dan integritas tinggi, siap berkontribusi bagi masyarakat.