June 12, 2026, oleh

Malang,mitratoday.com – Langkah besar menuju kemandirian industri kesehatan nasional ditandai dengan pelaksanaan ground breaking pembangunan pabrik infus Muhammadiyah oleh PT Suryavena Farma Indonesia serta peresmian Gedung Kuliah Bersama (GKB) V Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (11/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di kawasan PT Suryavena Farma Indonesia, Karangploso, dan Kampus UMM tersebut menjadi momentum penting penguatan sinergi antara dunia pendidikan, industri, dan organisasi kemasyarakatan dalam mendukung pembangunan sektor kesehatan Indonesia.
Dalam pengembangan kawasan tersebut, UMM menyiapkan lahan seluas tiga hektare sebagai kawasan industri terpadu yang akan menjadi pusat pengembangan sektor kesehatan berbasis kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri.
Sejumlah tokoh nasional turut hadir dalam agenda tersebut, di antaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta jajaran pimpinan Universitas Muhammadiyah Malang.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa pembangunan pabrik infus bukan sekadar investasi bisnis, melainkan bagian dari gerakan besar Muhammadiyah untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui sektor kesehatan.
“Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegas Haedar.
Menurutnya, keterlibatan Muhammadiyah dalam industri kesehatan merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian bangsa pada sektor yang sangat strategis. Kehadiran pabrik infus ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan nasional di bidang kesehatan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Sementara itu, Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menjelaskan bahwa pembangunan pabrik infus akan terintegrasi dengan pengembangan Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang dirancang sebagai pusat riset, inovasi, dan pengembangan teknologi kesehatan.
“Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri,” ujarnya.
Selain menjadi pusat produksi alat kesehatan, kawasan industri terpadu tersebut juga akan membuka peluang riset terapan bagi dosen dan mahasiswa, sekaligus memperkuat ekosistem inovasi kesehatan yang berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, UMM juga meresmikan Gedung Kuliah Bersama (GKB) V sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas sarana pendidikan tinggi. Kehadiran gedung baru tersebut diharapkan mampu mendukung proses pembelajaran yang semakin modern dan adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan target operasional pabrik infus pada tahun 2027, proyek ini menjadi salah satu investasi strategis di bidang kesehatan yang melibatkan kolaborasi antara Muhammadiyah, perguruan tinggi, dan dunia industri.
Di tengah tantangan global sektor kesehatan serta tingginya kebutuhan alat kesehatan dalam negeri, pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia menjadi simbol optimisme bahwa kemandirian kesehatan Indonesia dapat diwujudkan melalui kolaborasi, inovasi, dan semangat pengabdian untuk kepentingan masyarakat luas.