June 26, 2026, oleh Humas Universitas

Diskusi Publik bertajuk “Arah Kebijakan Energi Menuju Net Zero Emission Melalui Pembangkit Energi Baru Terbarukan” (foto: humas umm)

MALANG | PROKOTA.COM – Upaya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam mengembangkan dan menerapkan Energi Baru Terbarukan (EBT) mendapat apresiasi dari Dewan Energi Nasional (DEN).

Kampus ini dinilai tidak hanya mengajarkan konsep transisi energi di ruang kuliah, tetapi juga menghadirkannya dalam bentuk praktik nyata yang telah berjalan selama hampir dua dekade.

Apresiasi tersebut disampaikan Anggota Dewan Energi Nasional, Prof. Dr. Ir. Johni Jonatan Numberi, M.Eng., IPM., ASEAN Eng., saat menghadiri Diskusi Publik bertajuk “Arah Kebijakan Energi Menuju Net Zero Emission Melalui Pembangkit Energi Baru Terbarukan” yang berlangsung di Ruang Sidang Senat UMM, Kamis (25/6/2026).

Menurut Numberi, keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dikembangkan UMM menjadi bukti nyata komitmen kampus dalam mendukung pengembangan energi bersih di Indonesia.

“Di satu sisi, UMM sudah melakukan praktik-praktik energi baru terbarukan, yaitu dengan adanya PLTMH di kampus UMM maupun PLTS. Ini memberikan kontribusi nyata. Selain pembelajaran di ruang kelas yang sesuai dengan kurikulum, hal-hal yang berkaitan dengan praktik bidang energi baru terbarukan sudah benar-benar dilaksanakan sebagai laboratorium hidup,” tegasnya.

Ia menjelaskan, kunjungan DEN ke UMM dilatarbelakangi oleh pentingnya penguatan ketahanan energi nasional di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini.

Salah satu persoalan utama adalah penurunan produksi minyak bumi yang beriringan dengan meningkatnya kebutuhan impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis gasoline.

Di sisi lain, pemanfaatan energi baru terbarukan secara nasional masih belum optimal. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam memenuhi kebutuhan energi primer sekaligus mencapai target pengurangan emisi karbon yang telah ditetapkan pemerintah.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah menargetkan puncak emisi nasional tercapai pada 2035 serta dekarbonisasi menuju Net Zero Emission (NZE) sebesar 129 juta ton CO2e pada 2060.

Sejalan dengan target itu, porsi bauran energi primer dari sumber EBT ditetapkan meningkat hingga 70–72 persen pada tahun yang sama.

Numberi menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung agenda tersebut melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Salah satu contoh yang mendapat perhatian adalah inovasi desalinasi air laut berbasis energi surya yang dikembangkan dosen dan mahasiswa UMM di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Program tersebut dinilai mampu menjawab kebutuhan masyarakat terhadap akses air bersih sekaligus menghadirkan solusi energi ramah lingkungan di wilayah dengan tingkat elektrifikasi yang masih terbatas.

“Tadi dari hasil presentasi, saya lihat beberapa kegiatan sudah dilakukan oleh teman-teman di UMM. Misalnya, desalinasi air laut menjadi air tawar (air bersih) di NTT dengan memanfaatkan energi surya/matahari untuk pembangkitnya. Nah, ini adalah wujud pengabdian dan penelitian yang bagus, yang diterapkan langsung ke masyarakat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, percepatan transisi energi tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Dibutuhkan sinergi antara pemangku kebijakan, dunia pendidikan, industri, dan masyarakat agar target kemandirian energi serta pengurangan emisi karbon dapat tercapai secara berkelanjutan.

Melalui riset terapan dan berbagai program pengabdian yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi motor penggerak lahirnya inovasi energi bersih.

Dengan kolaborasi yang kuat, cita-cita mewujudkan ketahanan energi nasional dan masa depan rendah karbon dinilai semakin realistis untuk diwujudkan.