April 21, 2026, oleh Humas Universitas

Sharing Session: Microbial Growth and Data Analysis (Foto: Ali Humas)

Mengubah ruang laboratorium menjadi pusat inovasi kelas dunia bukan lagi sekadar wacana bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Guna mendongkrak kapasitas riset dosen eksakta, “Kampus Putih” menggandeng dua ilmuwan muda asal Austria untuk membedah kecanggihan teknologi bioreaktor mutakhir. Gebrakan ini tersaji apik dalam forum “Sharing Session: Microbial Growth and Data Analysis” pada Senin (20/4/2026).

Pada sesi pertama, Edo Damilyan, M.Sc., peneliti dari University of Vienna, Austria, mengupas tuntas rahasia biologi sel lewat analogi yang segar. Ia mengibaratkan sel mikroba layaknya sebuah sistem ekonomi pabrik yang harus mengatur efisiensi sumber daya demi bertahan hidup.

“Biologi sel mengandung banyak proses ekonomi, di mana sel mengubah input menjadi output di bawah batasan tertentu untuk memaksimalkan keuntungan pertumbuhannya,” papar Edo.

Menurutnya, pemahaman tentang fase steady-state (kondisi stabil) pada bakteri sangat krusial, terutama bagi para peneliti di bidang farmasi dan biologi. Kondisi ini dibutuhkan untuk meneliti produksi metabolit aktif secara akurat. Edo menekankan bahwa pemanfaatan teknologi bioreaktor mutlak diperlukan agar eksperimen berjalan presisi dan efisien, tanpa harus membuang banyak tenaga manual.

Melengkapi paparan tersebut, Catalin Rusnac, M.Sc. dari IMC Krems University, Austria, tampil membawakan demonstrasi alat secara langsung. Ia memamerkan purwarupa RepliFactory, sebuah bioreaktor otomatis bersistem open-source.

Catalin memperlihatkan cara kerja pergerakan cairan medium dan bagaimana sensor optical density (OD) menembakkan cahaya untuk mengukur pertumbuhan sel. Teknologi canggih ini memungkinkan peneliti mengatur tingkat stres pada bakteri guna memantau mutasi genetik adaptif. Tak pelak, demonstrasi ini memantik antusiasme luar biasa dari para dosen yang hadir.

“Dengan alat ini, kita dapat menjalankan program eksperimen simulasi selama berminggu-minggu secara otomatis, dan memantaunya langsung dari mana saja melalui koneksi internet,” ungkap Catalin.

Kehadiran praktisi Eropa ini sejalan dengan peta jalan UMM yang bersiap memasuki fase daya saing internasional secara utuh. Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., menegaskan bahwa forum saintifik ini adalah jembatan strategis untuk memecahkan kendala teknis metodologi riset sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) kampus.

“Pertemuan ini menjadi langkah awal. Harapannya, keluar dari ruangan ini para dosen memiliki motivasi yang tinggi untuk segera menempuh studi lanjut doktoral di luar negeri,” tegas Tri. Ia juga memproyeksikan lahirnya peluang kolaborasi penelitian yang erat dan berkesinambungan antara UMM dengan kampus-kampus di daratan Eropa.

Komitmen serupa disuarakan oleh Wakil Rektor IV UMM, Dr. Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Ia menyoroti bahwa fokus riset ilmu eksakta akan diproyeksikan menjadi ujung tombak publikasi UMM di masa depan. Pengajar didorong untuk tidak hanya mengandalkan literatur lokal, melainkan berani terpapar wawasan global.

“Internasionalisasi tidak mungkin bisa dilakukan kalau kita selaku pengajar juga tidak memiliki kapasitas, kemampuan teknis, dan wawasan yang sifatnya benar-benar internasional,” pungkas Salis.(ali/faq)

Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman