December 2, 2025, oleh

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan dua guru besar baru pada Sabtu (29/11/2025), sebagai bagian dari komitmen memperkuat kapasitas riset dan inovasi kampus. Pengukuhan ini sekaligus menegaskan fokus UMM pada pengembangan keilmuan strategis di bidang silvikultur serta teknik produksi tanaman hortikultura, yang berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Langkah tersebut selaras dengan pendirian Direktorat Saintek UMM yang bertujuan mempercepat hilirisasi riset dan menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Dua guru besar yang dikukuhkan adalah Prof Dr Ir Joko Triwanto MP IPU dan Prof Dr Ir Syarif Husen MP.
Dalam pemaparannya, Syarif menyoroti tantangan rendahnya produktivitas kentang nasional yang masih jauh dari potensi maksimal akibat keterbatasan benih bermutu. Produktivitas yang hanya sekitar 17,67 ton/ha, menurutnya, dapat ditingkatkan apabila petani memperoleh benih bebas virus dan memahami standar benih unggul. Kondisi ini terjadi karena banyak petani masih menggunakan benih generasi lanjut dan minim akses terhadap benih berkualitas.
Untuk menjawab persoalan tersebut, UMM mengembangkan teknologi kultur meristem, planlet in vitro, serta sistem Temporary Immersion Bioreactor (TIB) guna menghasilkan benih sehat dan berstandar.
“UMM telah memiliki SOP produksi, legalitas, dan hak cipta yang mendukung penyediaan benih unggul. Teknologi stek pucuk berakar serta produksi benih G0 hingga G2 penting untuk menyediakan benih secara cepat, efisien, dan terstandar. Teknologi ini perlu diteruskan melalui pendampingan dan pelatihan agar petani dapat mengaplikasikannya di lapangan,” ujarnya.
Syarif menambahkan, UMM bekerja sama dengan pemerintah daerah, penangkar milenial, dan BUMDes untuk memastikan inovasi tersebut tidak berhenti di laboratorium. Program pelatihan dirancang agar petani memahami cara memanfaatkan teknologi produksi benih secara benar dan berkelanjutan. Ia menilai kolaborasi ini sebagai kunci memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
Berbeda dengan Syarif, Joko menekankan pentingnya pemanfaatan lahan bawah tegakan hutan sebagai strategi berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan pangan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Ia menyebut bahwa model agroforestri mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberi peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. Pendekatan ini dinilai relevan untuk menghadapi perubahan iklim, degradasi lahan, serta meningkatnya kebutuhan pangan.
“Lingkungan bawah tegakan hutan memiliki potensi besar jika dikelola dengan bijak. Melalui agroforestri, kita dapat menghasilkan pangan beragam, menjaga stabilitas ekosistem, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Tanaman toleran naungan seperti ganyong, garut, talas, dan porang dapat dikembangkan secara produktif di area tersebut,” kata Joko.
Ia menjelaskan bahwa integrasi tanaman pangan dengan pohon hutan tidak hanya memperkaya ketersediaan pangan lokal, tetapi juga menjaga kesehatan tanah dan memperkuat infiltrasi air. Menurutnya, agroforestri mampu menjaga keanekaragaman hayati sekaligus menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekitar hutan. Karena itu, pemanfaatan lahan bawah tegakan perlu terus didorong melalui riset, pelatihan, dan pendampingan berbasis masyarakat.
Sementara itu, Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik MSi menegaskan peran strategis guru besar dalam memperkuat riset dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menilai pembentukan Direktorat Saintek menjadi langkah penting bagi UMM untuk mempercepat hilirisasi riset dan memastikan inovasi kampus dapat dimanfaatkan secara luas. Nazaruddin juga menekankan pentingnya riset terapan sebagai jawaban atas tantangan deindustrialisasi nasional.
“UMM akan terus berinvestasi pada riset terapan untuk melahirkan inovasi yang mampu mendorong transformasi ekonomi dari konsumsi menuju produksi,” ujarnya.
(Wildan/AS)