May 13, 2026, oleh

Malang, WISATA – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam menciptakan kampus berkelanjutan melalui inovasi pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular. Kampus yang dikenal sebagai Kampus Putih tersebut berhasil mengolah limbah sisa makanan menjadi pupuk organik berkualitas untuk mendukung penghijauan di seluruh area kampus.
Baca Juga : Retrorika Coffee & Bar Batu: Cafe Estetis Ramah Lingkungan Tanpa Sampah Plastik di Malang
Ini cara untuk menambah tinggi badan Anda! +18 CM dalam 2 BULAN
Program pengelolaan sampah ini menjadi salah satu langkah nyata UMM dalam mengurangi beban lingkungan sekaligus menciptakan sistem mandiri yang ramah lingkungan. Melalui pengelolaan terpadu, limbah organik dari kantin, taman, hingga kebun edukasi tidak lagi berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), melainkan diproses kembali menjadi produk yang bermanfaat.
Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, menjelaskan bahwa konsep pengelolaan tersebut mampu menyelesaikan dua persoalan sekaligus, yakni pengurangan sampah organik dan penyediaan pupuk untuk kebutuhan ruang hijau kampus. Dengan sistem ini, UMM dapat menjaga keberlanjutan lingkungan tanpa bergantung pada pasokan pupuk dari luar kampus.
Baca Juga : Sambut Hari Transportasi Nasional, Transjakarta Raih Predikat Transportasi Publik Terbaik ke-2 di ASEAN
Data tahun 2025 menunjukkan jumlah sampah organik yang dihasilkan seluruh fasilitas kampus mencapai sekitar 438 ton. Dari total tersebut, sekitar 92 persen atau lebih dari 402 ton berhasil diolah secara optimal melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kampus III. Angka tersebut menjadi bukti keberhasilan sistem pengelolaan sampah terpadu yang diterapkan kampus.
Salah satu program utama yang menjadi andalan UMM adalah vermikompos atau pengolahan sampah menggunakan bantuan cacing tanah. Dalam proses ini, sampah organik berupa sisa makanan, buah, dan sayuran terlebih dahulu dipilah lalu dicacah menjadi ukuran kecil agar lebih mudah terurai. Setelah itu, material organik difermentasi bersama bahan karbon seperti sekam padi dengan pengaturan kelembapan tertentu.
Proses fermentasi berlangsung selama satu hingga dua pekan di dalam reaktor tertutup. Setelah melewati tahap tersebut, bahan organik dipindahkan ke unit vermikompos untuk diurai oleh cacing tanah jenis Eisenia fetida. Cacing tersebut membantu mempercepat proses penguraian hingga menghasilkan pupuk organik yang kaya nutrisi dan aman digunakan untuk tanaman.
Seluruh proses pengolahan didukung fasilitas modern hasil pengembangan internal kampus. UMM memiliki mesin pencacah sampah berkapasitas besar, alat penyaring kompos, hingga mesin granulator yang dikelola tenaga profesional. Dengan dukungan teknologi tersebut, proses pengolahan sampah menjadi lebih efektif dan mampu menghasilkan kompos berkualitas tinggi dalam waktu sekitar 40 hingga 60 hari.