February 25, 2026, oleh

DeMalang.ID—Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membangun sistem Tempat Pengolahan Sementara (TPS). TPS dilengkapi tiga unit mesin pengolahan sampah yang dirancang, diproduksi, dan diinstalasi secara terintegrasi oleh tim internal kampus. Ketua pelaksana proyek, Iis Siti Aisyah mengatakan pembangunan sistem berawal dari kebutuhan menunjukkan pengelolaan lingkungan yang terukur dalam proses evaluasi GreenMetric.
“Awalnya tim GreenMetric membutuhkan bukti bahwa kampus memiliki sistem pengolahan sampah yang nyata untuk mendukung akreditasi dan pemeringkatan lingkungan,” katanya dalam siaran pers yang diterima DeMalang.
Sebelumnya, TPS UMM hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan, tanpa teknologi pengolahan. Sehingga sebagian besar sampah tak diproses dan diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Proyek dikerjakan Professional Center Teknik Mesin (PROCENTM) UMM. Sebuah unit profesional di bawah Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik. Mereka biasa menangani proyek rekayasa industri, sertifikasi internasional, hingga kerja sama strategis dengan berbagai lembaga.
Seluruh proses mulai dari desain teknik, manufaktur, hingga instalasi dilakukan tim internal. Melibatkan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa melalui skema pembelajaran berbasis proyek. “Semua desain dikerjakan sendiri bersama tim Teknik Mesin,” kata Iis.
Unit tersebut dibentuk untuk mengerjakan proyek profesional. Sekaligus menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa agar terlibat langsung dalam pekerjaan skala industri. Tiga alat utama yang meliputi mesin pencacah plastik berkapasitas 100–250 kilogram per jam. Alat ini mampu menghasilkan serpihan berukuran lima sampai 10 milimeter. Sehingga meningkatkan nilai jual limbah botol plastik.
Berikutnya mesin pencacah ranting berkapasitas hingga 300–500 kilogram per jam. Menghasilkan serbuk biomassa sebagai bahan media tanam atau kompos. Serta alat pemisah sampah organik berbasis sensor inframerah dengan efisiensi pemilahan mencapai 90–92 persen.
Sistem dirancang sebagai alur pengolahan terpadu. Seluruh sampah campuran dari kantin dan aktivitas kampus dimasukkan dalam kantong plastik langsung ke mesin pemilah. Plastik ringan terlempar ke bagian belakang, sementara sisa makanan dan limbah organik mengalir ke bagian depan untuk proses lanjutan.
Iis melanjutkan, tim perancang menyiapkan konsep pengembangan menuju zero waste. Limbah organik cair yang dihasilkan direncanakan dialirkan secara gravitasi menuju toren fermentasi. Posisi TPS berada di lereng, sehingga tidak membutuhkan pompa tambahan.

“Limbah organik nantinya bisa difermentasi menjadi biogas,” katanya. Tekanan gasnya bisa diteliti mahasiswa, bahkan dimanfaatkan sebagai bahan bakar insinerator kecil. Kampus dengan populasi sekitar 35.000 warga akademik ini menghasilkan sekitar 1,2 ton sampah setiap hari. Sampah terdiri atas plastik sebesar 45 persen, limbah organik terkontaminasi plastik sebanyak 30 persen, serta limbah ranting mencapai 25 persen.
Ke depan, sistem pengolahan sampah terpadu ini diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas teknis. Namun, tetapi juga pusat edukasi lingkungan dan inovasi riset berkelanjutan. Juga untuk optimalisasi operasional, peningkatan pasokan sampah organik, dan keterlibatan mahasiswa dalam penelitian biogas dan daur ulang. Sehingga diharapkan mampu mendorong lahirnya solusi baru berbasis teknologi tepat guna.
Dengan pengembangan berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor, diharapkan berpotensi menjadi model pengelolaan sampah kampus yang mandiri, efisien. Sekaligus menginspirasi institusi pendidikan lain bergerak lebih hijau dan minim limbah. Inisiatif ini juga memperkuat komitmen kampus terhadap pembangunan berkelanjutan, target Sustainable Development Goals (SDGs), dan mendukung indikator penilaian UI GreenMetric World University Rankings. EKO WIDIANTO