April 11, 2026, oleh Humas Universitas

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan International Guest Lecture bertajuk “Achieving Food Sovereignty through the Integration of Smart and Sustainable Agricultural Technologies” pada Rabu, 8 April 2026. (Foto: Nanan Humas)

Isu kedaulatan pangan menjadi tantangan global yang kian mendesak di tengah perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, dan lonjakan kebutuhan dunia. Menjawab persoalan ini, Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan International Guest Lecture bertajuk “Achieving Food Sovereignty through the Integration of Smart and Sustainable Agricultural Technologies” pada Rabu, 8 April 2026. Acara ini menghadirkan dua akademisi dari Shandong Agricultural University, China.

Dalam paparannya, Zhang Chao, Ph.D. menegaskan bahwa transformasi sektor pertanian tidak bisa lagi dipisahkan dari pemanfaatan teknologi cerdas. China sudah sukses mengembangkan sistem pertanian modern dengan mengintegrasikan Beidou Navigation, Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), dan platform smart cloud. Integrasi ini memungkinkan pengelolaan lahan pertanian yang presisi, berbasis data, dan adaptif terhadap dinamika lapangan.

“Sistem kami mampu menghubungkan sensor, drone, dan jaringan digital dalam satu ekosistem terpadu. Kita bisa menggunakan telepon atau komputer untuk melakukan kontrol jarak jauh. Kehadiran AI dan sistem otomatis menjadi kunci dalam menciptakan pertanian presisi yang minim ketergantungan pada tenaga manual,” jelas Zhang Chao. Ia menambahkan, teknologi ini adalah solusi strategis atas krisis iklim, menjadikan sektor pertanian lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan.

Sementara itu, Xiaoyun Wang, Ph.D. memaparkan capaian teknologi pertanian China, khususnya pada industri sayuran. Pemanfaatan protected agriculture seperti greenhouse terbukti mampu memperpanjang masa tanam, menstabilkan produksi, dan meningkatkan kualitas panen. Didukung inovasi pengelolaan tanah yang komprehensif, China sukses mengukuhkan diri sebagai salah satu eksportir sayuran terbesar di dunia.

“Fokus kita adalah bagaimana sistem teknologi China dapat diterapkan di Indonesia untuk mengembangkan industri sayur. Kami berharap inovasi ini tidak hanya berdampak pada produksi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan kolaborasi lintas negara,” ungkap Wang.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa adopsi teknologi di Indonesia harus disesuaikan dengan kondisi lokal, seperti tingginya curah hujan dan karakteristik khas tanah tropis, agar memberikan manfaat maksimal bagi sektor pertanian nasional.

Disisi lain, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., turut menegaskan bahwa dinamika global menuntut kesiapan mahasiswa untuk bersaing di kancah internasional.

“The world is getting borderless, yang menandakan bahwa batas geografis bukan lagi penghalang. So prepare yourself to compete in international level,” pesannya.

Salis menekankan bahwa masa depan sangat bergantung pada sektor strategis seperti pangan, teknologi, dan energi. Melalui forum internasional ini, UMM tidak hanya memperluas jejaring, tetapi juga memperkuat kapasitas mahasiswa. Dengan sinergi antara teknologi canggih dan sumber daya manusia yang unggul, kedaulatan pangan akan menjadi target yang sangat realistis untuk diwujudkan.(*vin/faq)

 

Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman