November 27, 2025, oleh

KLIKMU.CO — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan posisinya sebagai kampus penggerak peradaban. Melalui riset mendalam, gagasan visioner, dan komitmen panjang terhadap kemajuan bangsa, UMM resmi mengukuhkan tiga guru besar baru pada Rabu (26/11/2025).
Kepakaran mereka meliputi pendidikan Islam, ekologi dan keberlanjutan industri, serta keperawatan komunitas. Ketiganya ialah Prof Dr Khozin MSi, Prof Dr Ir Ahmad Mubin ST MT, dan Prof Dr Yoyok Bekti Prasetyo MKep SpKom.
Orasi ilmiah pertama disampaikan Ahmad Mubin. Ia menguraikan bahwa industri modern harus bergerak melampaui orientasi profit semata. Industri wajib mengadopsi prinsip triple bottom line yang menekankan keseimbangan antara aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial.
Menurutnya, ekologi industri adalah kerangka penting untuk menjawab tantangan global melalui penerapan circular economy, efisiensi sumber daya, serta pengembangan proses produksi yang ramah lingkungan.
Mubin juga menegaskan pentingnya instrumen evaluasi yang kredibel untuk mengukur keberlanjutan industri. Beragam alat ukur seperti Sustainability Balanced Scorecard, standar Global Reporting Initiative (GRI), metode AHP, hingga OMAX diperlukan agar dampak keberlanjutan dapat dipantau secara akurat. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan menilai efektivitas strategi lingkungan dan sosial secara terukur.
Ia juga memberikan sejumlah rekomendasi kebijakan, mulai dari penguatan regulasi industri hijau, pemberian insentif inovasi ramah lingkungan, pengembangan eco-industrial parks, hingga peningkatan kapasitas SDM berorientasi teknologi bersih.
“Dengan perencanaan strategis, implementasi teknologi bersih, kolaborasi antarsektor (simbiosis industri), dan dukungan kebijakan yang tepat, industri dapat menjadi motor penggerak ekonomi yang ramah lingkungan, meningkatkan kesejahteraan sosial, sekaligus memiliki daya saing global,” ujarnya.
Berikutnya, Prof Khozin menekankan pentingnya penyusunan nilai dasar sebagai pondasi ekosistem sekolah di tengah pesatnya perkembangan pendidikan Islam. Menurutnya, banyak lembaga pendidikan tumbuh tanpa kerangka nilai yang jelas sehingga budayanya rapuh.
Ia menegaskan tiga nilai fundamental: ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan. Ketiganya melahirkan nilai inti seperti amanah, empati, solidaritas, dan inovasi, yang diwujudkan melalui budaya sekolah seperti 5S, disiplin, kolaborasi, dan perbaikan berkelanjutan.
Khozin menegaskan bahwa pendidikan Islam harus kembali pada misi utamanya: membentuk manusia merdeka dan berperadaban, bukan sekadar menyampaikan pengetahuan semata.
“Sekolah dengan ekosistem dan budaya yang baik tentu akan melahirkan lulusan berkualitas, hidup bahagia di bawah lindungan syariat Islam, serta berkontribusi bagi kemanusiaan. Jika ingin ekosistem dan budaya sekolah kuat dan adaptif terhadap perubahan, maka fondasi nilai dasar dan nilai utama harus kokoh,” tegasnya.
Sementara itu, Prof Yoyok Bekti Prasetyo menggarisbawahi bahwa stunting bukan hanya persoalan gizi, tetapi juga krisis kemanusiaan. Ia menyebut stunting sebagai bentuk “kemiskinan biologis” yang menghambat kecerdasan, kesehatan, dan produktivitas generasi muda. Meski prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8% pada 2024, ancaman masih besar, terutama di wilayah Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, yang pernah mencatat angka lebih dari 42–50%.
Yoyok memaparkan berbagai program UMM sebagai Impactful University yang hadir secara langsung di tengah masyarakat NTT. Program tersebut meliputi penguatan parenting self-efficacy, Gerakan Ibu Tangguh, edukasi pola asuh, hingga intervensi infrastruktur berupa pembangunan sumur bor sedalam 71 meter di Desa Nusa. Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak “profesor penggerak”, yakni akademisi yang tidak hanya aktif meneliti, tetapi juga turun langsung memperkuat masyarakat.
“Kita tidak akan membangun Indonesia Emas 2045 hanya dengan bangunan tinggi dan ekonomi kuat, tetapi dengan anak-anak yang sehat, keluarga yang percaya diri, dan masyarakat yang saling menguatkan,” tuturnya.
(Wildan/AS)