December 3, 2025, oleh

pwmu.co –Menjadi seorang dai di era modern bukanlah perkara mudah. Bukan sekadar tentang kemampuan berbicara atau menyampaikan nilai-nilai agama di atas mimbar.
Terlebih lagi, baru-baru ini publik dihebohkan dengan cara salah satu Gus yang berdakwah dengan etika yang tidak mencerminkan seorang pendakwah.
Menyikapi hal itu, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Prodi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Roziqi, S. Pd. I., M.Pd. turut memberikan pendapatnya.
Ainur menegaskan bahwa profesi ini harus mempunyai akhlak yang tinggi, kesabaran, serta pemahaman mendalam tentang karakter jamaah.
Lebih lanjut, Ainur memaparkan, Rasulullah SAW telah mencontohkan bahwa seorang dai tidak cukup hanya berilmu, tetapi juga harus memiliki akhlak yang mulia seperti jujur, amanah, dan sabar.
Menurutnya, seorang pendakwah memegang dua peran sekaligus yaitu penyampai materi dan teladan bagi jamaahnya. Dakwah bukan hanya tentang ucapan, namun dakwah juga harus berupa tindakan.
Masyarakat atau jamaah melihat bukan hanya apa yang diajarkan, tetapi bagaimana dai tersebut menjalani apa yang sudah disampaikan.
“Maka dari itu, pendakwah perlu menekankan pentingnya menjaga integritas, tutur kata, serta perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Kemudian, pendakwah seharusnya mencontohkan perilaku yang baik ketika berdakwah. Penyampaian yang dianggap terlalu vulgar dan tidak sesuai dengan adab dakwah menjadi sorotan dan memicu diskusi pada masyarakat luas.
Vulgaritas, gurauan berlebihan, atau perilaku yang tidak pantas sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai agama. Hal inilah yang justru merusak citra dakwah dan sering kali menimbulkan stigma negatif bagi pendakwah lain.
pwmu.co –
Menjadi seorang dai di era modern bukanlah perkara mudah. Bukan sekadar tentang kemampuan berbicara atau menyampaikan nilai-nilai agama di atas mimbar.
Terlebih lagi, baru-baru ini publik dihebohkan dengan cara salah satu Gus yang berdakwah dengan etika yang tidak mencerminkan seorang pendakwah.
Menyikapi hal itu, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Prodi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Roziqi, S. Pd. I., M.Pd. turut memberikan pendapatnya.
Ainur menegaskan bahwa profesi ini harus mempunyai akhlak yang tinggi, kesabaran, serta pemahaman mendalam tentang karakter jamaah.
Lebih lanjut, Ainur memaparkan, Rasulullah SAW telah mencontohkan bahwa seorang dai tidak cukup hanya berilmu, tetapi juga harus memiliki akhlak yang mulia seperti jujur, amanah, dan sabar.
Menurutnya, seorang pendakwah memegang dua peran sekaligus yaitu penyampai materi dan teladan bagi jamaahnya. Dakwah bukan hanya tentang ucapan, namun dakwah juga harus berupa tindakan.
Masyarakat atau jamaah melihat bukan hanya apa yang diajarkan, tetapi bagaimana dai tersebut menjalani apa yang sudah disampaikan.
“Maka dari itu, pendakwah perlu menekankan pentingnya menjaga integritas, tutur kata, serta perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Kemudian, pendakwah seharusnya mencontohkan perilaku yang baik ketika berdakwah. Penyampaian yang dianggap terlalu vulgar dan tidak sesuai dengan adab dakwah menjadi sorotan dan memicu diskusi pada masyarakat luas.
Vulgaritas, gurauan berlebihan, atau perilaku yang tidak pantas sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai agama. Hal inilah yang justru merusak citra dakwah dan sering kali menimbulkan stigma negatif bagi pendakwah lain.